Gelar Kedua Korea di Asian Development Tour melalui Joohyung Kim
Gelar Kedua Korea di Asian Development Tour melalui Joohyung Kim / ADT

AGolf.xyz – Berusia 10 tahun sejak dibentuk pertama kali pada 2010, Asian Development Tour (ADT) kini menjelma menjadi salah satu tur tingkat kedua terbaik yang ada di golf pria. Sayangnya, musim 2020 tidak dapat berjalan baik setelah pandemi melanda dan menghentikan seluruh tur dunia selama beberapa saat.

Ketika PGA Tour dan European Tour juga tur kasta kedua mereka, Korn Ferry Tour dan Challenge Tour mulai beranjak normal, Asian Tour dan ADT belum bisa memainkan satu turnamen pun pada masa pandemi.

Sembari menunggu kepastian kembalinya tur ini, Asian Tour mengajak beberapa lulusan ADT untuk berdiskusi terkait pengalaman mereka yang memulai awal kariernya di ADT.

Tahun lalu, Joohyung Kim dari Korea mendapat kartu Asian Tour tanpa kualifikasi saat memetik tiga gelar di Asian Development Tour. Gelarnya di PGM ADT Malaysia, Ciputra Golfpreneur Indonesia, dan Pakistan Open segera naik kelas pada akhir Oktober 2019.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Di bulan pertamanya, ia telah memastikan gelar Panasonic Open India dengan menang satu stroke dari pegolf lokal Shiv Kapur dan Chikkarangappa.

Kim yang sekarang berusia 18, telah memainkan turnamen mayor pertamanya di PGA Championship sebagai turnamen PGA Tour pertamanya. Meskipun Miss CUT 70-77, Kim diundang ke musim baru 2020/2021 dengan tiga akhir pekan di Safeway Open, Corales Puntacana Championship, dan CJ CUP. Dari ketiga turnamen ini, ia mencapai finis terbaik T.33 di Republik Dominika.

Asian Tour juga memberikan 7 pegolf dengan hadiah terbanyak mulai 2019, sebagai salah satu kenaikan paling membanggakan dari tur ini. Sebelumnya, Asian Tour hanya mengambil maksimal lima pegolf sebelum menyaksikan para lulusannya mulai unjuk gigi di tur yang lebih tinggi.

Tahun lalu, ADT memainkan 19 turnamen dengan hadiah total USD1,74 juta. Jumlah tersebut tidak sebesar musim 2015, di mana ADT menggulirkan 28 turnamen dengan hadiah total USD2,2 juta.

John Catlin dengan gelar Irish Open 2020 / European Tour
John Catlin dengan gelar Irish Open 2020 / European Tour

Beberapa lulusannya mulai membuat marka terbaik, salah satunya John Catlin yang mengklaim dua gelar European Tour bulan September lalu, di Estrella Damm N.A. Andalucia Masters dan Dubai Duty Free Irish Open.

“Pengalaman pertama saya di ADT 2016 sangatlah berkesan. Dari 22 turnamen, saya bermain tanpa Miss CUT dan seluruhnya menawarkan ranking dunia OWGR. Menurut saya, tur ini sangat menarik dan diperlukan keseriusan terbaik untuk memenangkan setiap turnamennya,” kata Catlin.

Dari gelar pertamanya di Combiphar Golf Invitational, di Gunung Geulis, Bogor, dia mendapat gelar lain di musim yang sama di PGM EurAsia Perak Championship, Malaysia. Saat itu, dia menjadi satu dari lima pegolf yang memiliki pendapatan terbesar dalam Order of Merit ADT.

“ADT menjadi batu loncatan buat saya selama ini. Setelah Top-5 di tahun 2016, saya berhasil mempertahankan Top-60 di Asian Tour 2017, dan terus menanjak naik ke Top-110 di European Tour. Saya sangat percaya diri di setiap langkah tersebut,” komentar Catlin.

Dia juga menuturkan, perjalanannya di Asian Development Tour telah memberikan mindset bagaimana memenangkan sebuah turnamen.

“Menang tidak pernah mudah di golf. Tetapi, apa yang pernah saya rasakan di ADT memberikan gambaran bagaimana caranya menang di Asian Tour dan European Tour. Sangat senang saat akhirnya bisa menang Asian Pacific Classic di China, dan berturut-turut ke Sarawak Championship di Malaysia, Yeangder TPC di Taiwan, dan Thailand Open. Saya banyak belajar dari dua gelar ADT,” tukas Catlin.

Catlin menyebut, pelatihnya Noah Montgomery menjadi orang pertama yang menyarankannya untuk berlatih di Asia.

“Dia memperlihatkan ada banyak pegolf terbaik Asia yang kini saya kenal, seperti Cameron Smith, Kiradech Aphibarnrat, Anirban Lahiri, dan masih banyak lagi yang memulai kariernya di Asia. Tidak sedikit dari mereka yang melanjutkan kiprah brilian di Asia ke European Tour dan PGA Tour. Saya melihat kesempatan itu, dan tahun 2016 menjadi awal semua ini,” kenangnya.

Satu hal lain yang menjadi keuntungan ADT ialah, biaya hidup yang jauh lebih murah dari turnamen di Amerika. Menurutnya, semua rookie akan menjumpai kesukaran tersebut di awal kariernya.

“ADT membuat tur yang terjangkau kepada para anggotanya. Biaya pendaftaran setiap turnamen hanya USD50, fee caddie juga tidak begitu mahal, dan kita bisa mencari hotel terdekat dengan biaya memadai. Makanan sangat murah, dan jika dihitung-hitung modal untuk bermain satu tahun di Amerika bisa bertahan selama dua atau bahkan tiga tahun di ADT. Selama waktu tersebut, kita dapat berlatih menjadi pegolf yang semakin baik setiap tahunnya,” komentar Catlin.

Catlin yang tinggal di Hua Hin, Thailand, menempati peringkat kedua Boonchu Ruangkit Championship, satu-satunya turnamen yang berhasil digelar ADT bulan Januari lalu. Pavit Tangkamolprasert menjadi pemenang saat itu.

Gelar ketujuh yang dia dapat, merupakan rekor terbesar sepanjang sejarah ADT. Selain ADT, dia juga mengukir dua gelar Asian Tour.

“Saya sangat menghargai ADT, karena merekalah yang membuat permainan saya semakin baik. Saya bisa masuk Asian Tour juga dari ADT,” tutur Pavit. “Jika ada yang perlu saya sarankan, ADT wajib dicoba kepada mereka yang ingin memulai karier golf.”

Danny Masrin menjadi salah satu pegolf Asian Tour yang mengenyam Asian Development Tour / ADT
Danny Masrin menjadi salah satu pegolf Asian Tour yang mengenyam Asian Development Tour / ADT

Danny Masrin dari Indonesia mengikuti sejumlah turnamen ADT, dengan hasil terbaik T.4 di Brunei Championship 2018 dan Ciputra Golfpreneur 2018. Dari pengalaman itu, Masrin menorehkan pencapaian terbaik Asian Tour di T.5 BNI Indonesian Masters. Peringkat tertinggi yang belum pernah dibuat pegolf Indonesia sejak edisi pertama 2011.

“Ketika saya pertama kali mengikuti ADT, tur ini masih memberi kemudahan cut-off over-par di banyak turnamen. Sejalan dengan waktu, under-par menjadi syarat cut-off yang semakin sering hadir di ADT. Ini menunjukkan perkembangan tur dan pemain yang berkualitas setiap tahunnya. Dari sana, saya terus berkembang untuk bermain sebaik mungkin dan ADT menjadi tempat terbaik untuk merasakan atmosfer turnamen golf di kawasan Asia. Tidak jarang, pemenang Asian Tour berasal dari ADT dan banyak yang berterima kasih pada tur ini,” cerita Masrin.

Kesuksesan lain dari ADT salah satunya karena kerja sama solid dengan sejumlah sirkuit di masing-masing negara. Malaysia misalnya memiliki PGM, Indonesia dengan Professional Golf Tour of Indonesia, All Thailand Golf Tour di Thailand, dan Taiwan PGA.