bali-pura-lempuyang-temple-heaven

AGolf.xyz- Destinasi wisata paling populer di Indonesia, Bali, akan mulai menerima kedatangan turis internasional mulai 11 September 2020 mendatang. Bali menerapkan tiga tahapan untuk menyambut tatanan kehidupan era baru di masa pandemi COVID-19 ini.

Tahap pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020. Untuk tahap pertama ini, sesuai arahan Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19, pelaksanaan Tatanan Kehidupan Era Baru, yang diijinkan terbatas hanya pada sektor: a) kesehatan; b) kantor pemerintahan; c) adat dan agama; d) keuangan, perindustrian, perdagangan, logistik, transportasi, koperasi, UMKM, pasar tradisional, pasar modern, restoran, dan warung; e) pertanian, perkebunan, kelautan/perikanan, dan peternakan; dan f) jasa dan konstruksi. Sedangkan untuk sektor pendidikan dan sektor pariwisata belum diberlakukan. Sementara sektor pendidikan menunggu kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

View this post on Instagram

The Kintamani region is indeed famous for the coolness of the air. No wonder if Kintamani is always visited by tourists to get the beauty of the natural mountain scenery in Bali. ⛰🙌 . The view of Mount Batur and its lake looks very impressive when seen from Kintamani. There is a village in Kintamani which has the best spot to see the beauty of Bali in the morning, the village of Pinggan. This village in the Kintamani area presents a foggy village view set in a beautiful mountain setting. 💚 . . ————— 📍 Location : Desa Pinggan, Kintamani Bali Indonesia 📸 Amazing photo by : @kemu_mai_melali . . Let's share your amazing experience use hastag #deparadisebali to the world 🖤 . . Explore Bali with @deparadise.tour 🌴 Need help with your trip to Bali? We know how hard it can be to choose your location and itinerary Let's talk to our expert tour planner : +62 87775174276 (Whatsapp) Easy way to Booking online available here: www.deparadisetour.com

A post shared by BALI TRAVEL GUIDE (@deparadise.tour) on

Tahap kedua, melaksanakan aktivitas secara lebih luas, termasuk sektor pariwisata,namun hanya terbatas untuk wisatawan Nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Tahap Ketiga, melaksanakan aktivitas secara lebih luas sektor pariwisata termasuk untuk wisatawan mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan tiga tahapan tersebut merupakan suatu ancang-ancang yang diharapkan dapat berjalan dengan lancar, baik, dan sukses atas izin, restu, tuntunan, serta perlindungan Ida Bhatara Bhatari Sasuhunan sami, Leluhur, Lelangit, dan Guru-guru Suci. “Untuk itu kita berserah diri sepenuhnya dan setulusnya, seraya memohon kepada Beliau agar berkenan memberikan anugerah yang terbaik untuk kita semua,” ujarnya.

Sebelum mengawali tiga tahapan tersebut, bertepatan dengan Purnama Kasa, 5 Juli 2020, bertempat di Pura Agung Besakih, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menggelar Upacara Yadnya Pamahayu Jagat dan Penerapan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru di Bali. Upacara diikuti oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Ny. Putri Suastini Koster, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan Ny. Tjokorda Putri Hariyani Sukawati, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, DPRD Bali, tokoh-tokoh Agama serta anggota Forkopimda se-Bali.

Menurut Gubernur, Upacara Yadnya Pamahayu Jagat yang dihaturkan pada hari ini merupakan aled rasa bakti dan suksmaning manah atas anugerah Beliau sehingga penanganan COVID-19 di Provinsi Bali telah berjalan dengan baik. “Melalui Upacara Yadnya Pamahayu Jagatini pula, kita memohon izin, restu, tuntunan, serta pelindungan Ida Bhatara Bhatari Sasuhunan sami agar Beliau berkenan memberikan anugerah yang terbaik sehingga Tiga Tahapan itu dapat berjalan dengan lancar dan sukses dengan penerapan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru di Bali,” jelasnya.

Koster menyampaikan munculnya wabah COVID-19 saat ini, merupakan salah satu jenis Gering, yang cakupan penularannya mendunia dengan tingkat infeksi yang tinggi sehingga disebut Gering Agung (Pandemi COVID-19). Ia menambahkan wabah sebagai penanda adanya ketidakharmonisan/ ketidak-seimbangan alam beserta isinya pada tingkatan berbahaya akibat ulah manusia yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasar nilai-nilai kearifan lokal. “Bahwa hidup harus menyatu dengan alam, yaitu manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang menguripi. Hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam,” kata Gubernur asal desa tua bernama Desa Sembiran, Buleleng ini.

Gubernur Koster mengatakan pandemi COVID-19 mesti dimaknai secara positif sebagai proses alam, dari situasi negatif-berbahaya untuk mencapai kondisi di titik nol, sebagai pondasi menuju suatu keseimbangan baru yang akan menjadi tatanan kehidupan baru secara holistik dalam Era Baru.