Kepala BKPM Thomas T Lembong bersalaman dengan President of SMBC Takeshi Kunibe/ Twitter:@bkpm
Kepala BKPM Thomas T Lembong bersalaman dengan President of SMBC Takeshi Kunibe/ Twitter:@bkpm
Kepala BKPM Thomas T Lembong bersalaman dengan President of SMBC Takeshi Kunibe/ Twitter:@bkpm

AGolf– Di tengah perlambatan dan ketidakpastian global, Indonesia masih menjadi negara yang menarik sebagai tujuan investasi, termasuk bagi Jepang. Menurut Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong , dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat menurun dari 5 persen menjadi 4,6 persen pada awal pemerintahan Joko Widodo, tim ekonomi berhasil menahan dan bahkan mendorong kembali ke tingkat 5,1 persen pada akhir tahun 2015 lalu. Oleh sebab itu, Thomas menghargai keinginan Jepang untuk terus berinvestasi dan bahkan ingin meningkatkan investasinya di Indonesia.

“Presiden Republik Indonesia Joko Widodo adalah new era. Kami tengah berusaha mengubah mind set dan memperbaiki berbagai kesulitan berusaha di Indonesia,” kata Tom Lembong melalui keterangannya, Kamis (24/11).

Hal ini diungkapkan Tom pada saat penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) antara BKPM dengan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) pada hari Kamis (24/11) di Tokyo. Dalam MoU ini, kedua belah pihak sepakat untuk saling mendukung dalam mempromosikan dan meningkatkan investasi di Indonesia.

“Indonesia akan tumbuh pesat di antara negara-negara lain dan melalui MoU ini, kami ingin mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara,” kata President and CEO SMBC Takeshi Kunibe.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Saat ini, Jepang adalah negara terbesar kedua yang menanamkan modalnya di Indonesia. Sementara negara pertama yang terbesar menanamkan modalnya di Indonesia adalah Singapura. “Namun ada joke di Jakarta bahwa uang yang ditanamkan dari Singapura merupakan uang orang Indonesia sendiri,” kata Thomas.

Dari bulan Januari hingga September 2016, dalam catatan BKPM, realisasi investasi Jepang di Indonesia mencapai angka USD 4,5 miliar. Sepanjang sejarah investasi Jepang paling tinggi terjadi pada tahun 2013, yaitu sebesar USD 4,7 miliar. Namun terus menurun pada tahun 2014 menjadi USD 2,7 miliar dan tahun 2015 sebesar USD 2,8 miliar. Dengan masih tersisa tiga bulan hingga tutup tahun ini, dapat dipastikan investasi Jepang tahun 2016 akan melampaui tahun 2013.

Selain menandatangani MoU dengan SMBC, Tom Lembong yang juga Wakil Ketua Kelompok Kerja 1 dari Satgas Percepatan dan Efektivitas Pelaksanaan Paket Kebijakan Ekonomi, yang membawahi bidang sosialiasi dan diseminasi informasi, juga memberikan paparan untuk meyakinkan pengusaha Jepang berinvestasi di Indonesia, pada acara SMBC Global Seminar.

Selain Thomas Lembong, secara khusus Asisten Deputi Bidang Produktifitas Energi Kemenko Perekonomian Andi Novrianto juga mensosialisasikan Paket Kebijakan Ekonomi yang sudah mencapai 14 paket.

Peserta seminar yang mencapai 600 orang yang utamanya adalah nasabah SMBC, terlihat antusias pada saat tanya jawab. Umumnya mereka ingin mengetahui sektor-sektor yang lebih detil dan BKPM siap menindaklanjuti minat para investor ini.

Di luar itu, rombongan yang dipimpin Tom Lembong juga akan melakukan one-on-one meeting dengan beberapa perusahaan besar, di antaranya Sumitomo Corporation, Idemitsu Kosan, Marubeni Corporation serta Nippon Steel and Sumitomo Metal.