MFA_GenderBendingFashion-Installation

AGolf.xyz- Dunia mode selalu menghadirkan segala hal baru yang menarik bagi para penggemar mode. Salah satunya dengan pameran mode terbesar di Boston yang mengeksplorasi pengaruh mode abad terakhir dalam masyarakat barat tentang pakaian khusus gender. Pameran ini diselanggarakan sampai 23 Agustus 2019 di Museum of Fine Arts in Boston (MFA).

Pameran busana non-binary

Pameran berjudul ‘Gender Bending Fashion’ ini menampilkan lebih dari 60 koleksi busana haute couture dan ready-to-wear. Pameran ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni Disrupt, Blur dan Transcend. Masing-masing bagian menampilkan perpaduan busana dengan potongan sejarah dan kontemporer yang menjadi salah satu bukti bahwa mode non-biner bukanlah perkembangan baru.

Seperti potongan-potongan dari tren androgini tahun 1920-an, ketika busana wanita merambah ke busana pria yang lebih tradisional. Koleksi busana androgini ditampilkan dalam tuskedo dengan ekor dan topi yang dibuat untuk pertunjukan cabaret aktris Jerman Marlene Dietrich dalam film 1930 Maroko.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Koleksi busana lainnya, termasuk setelan Ziggy Stardust karya David Bowie yang dirancang oleh penjahit utama Freddie Burretti. Atau busana kontemporer jas merah Janelle Monae yang dirancang oleh Christian Siriano untuk Oscar 2018. Selain itu masih ada beberapa koleksi busana lainnya dari deretan desainer ternama, seperti Viviene Westwood, Jean Paul Gaultier, Yves Saint Laurent, Rick Owens dan Rei Kawakubo.

View this post on Instagram

Contemporary designers @driesvannoten, Walé Oyéjidé of @ikirejones, and @alessandro_michele at @gucci are experimenting with vibrant colors and patterns reminiscent of the 1960s/70s “Peacock Revolution," when fashion-forward men championed wider palettes of color and vivid psychedelic patterns. See these ensembles in #GenderBendingFashion, which illustrates a rich history of individuals disrupting, blurring and seeking to transcend a traditional division between men's and women's clothing. Pictured: Suit and shirt (Spring 2014), Dries Van Noten, @hamishbowles Collection; Vines II suit, from the collection “Born Between the Borders,” St. Michael des Maasai scarf (Spring/Summer 2017), Walé Oyéjidé Esq. with Samuel Hubler for Ikiré Jones; Suit (Spring/Summer 2016), Alessandro Michele for Gucci, @hamishbowles Collection.

A post shared by Museum of Fine Arts, Boston (@mfaboston) on

Dalam pameran ini juga menampilkan sebuah lukisan abad ke-19 oleh seorang seniman tak dikenal yang menyoroti praktik Victoria dalam berpakaian. Lukisan tersebut menggambarkan anak laki-laki dan perempuan dalam kostum yang hampir serupa.

“Menantang definisi pakaian yang kaku dan biner dalam masyarakat barat selama abad terakhir. Beberapa pameren mode populer lainnya menampilkan koleksi busana memukau atau bersejarah. Namun berbeda dengan pameran ini yang menantang hubungan antara mode dan gender,” kata Michelle Tolini Finamore, curator MFA dilansir dari Lonely Planet Travel News.

Ensemble designed by: Jeremy Scott/lonelyplanet.com

“Deretan busana yang dipamerkan berbicara secara luas tentang pergeseran masyarakat sepanjang abad lalu. Diharapkan dengan adanya pameran ini dapat membuka mata para pengunjung mengenai perubahan peran gender, kesetaraan ras, dan sebagai alat yang kuat untuk mengekspresikan diri.”