AGolf.xyz– Claude Harmon bergabung dengan ayahnya bersama Butch, David Leadbetter, Hank Haney, Pete Cowen dan Jack Grout sebagai pelatih yang pernah membawa para pemainnya memenangkan empat kejuaraan major.

Kemenangan Dustin Johnson yang behasil membawa Piala Master bersanding dengan US Open dan PGA Tour serta Ernie Els’ 2012 Open Championship di rak piala Harmon membuatnya sangat penting.

Harmon menjalani dua karantina terpisah selama 14 hari setelah dua caddy Brooks Koepka, Ricky Elliott dinyatakan positif COVID-19 pada Juni lalu, kemudian Johnson dinyatakan positif bulan lalu. Itu membuat persiapan menjelang perhelatan Master di Augusta menjadi hanya berjarak dua minggu. Hal ini juga sekaligus menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi Harmon. Ia hanya memiliki waktu yang relatif sedikit untuk mengembalikan performa Johnson seperti saat ia mengantarkan Johnson memenangkan Northern Trust and Tour Championship (dan Piala FedEx bersamanya) dan sekaligus membawa Johnson merebut kembali peringkat No.1 Dunia.

“Dari pandemi lalu cedera Brooks di awal musim sampai diisolasi dari para pemain ke Colonial hingga bepergian tanpa henti setiap minggu. Ini benar-benar tahun yang gila,” kata Harmon. “Kita semua harus beradaptasi, dan Anda harus bisa memanfaatkan sebaik mungkin situasi yang Anda hadapi.”

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Johnson harus mampu menyingkirkan perasaan tidak nyaman, pada minggu sebelumnya ketika ia ikut ambil bagian di Houston Open, lalu memulai Masters dengan kondisi tidak diunggulkan karena perhatian utama Harmon justru tertuju kepada sang juara US Open, Bryson DeChambeau. “Anda tidak pernah mengatakan COVID adalah hal yang baik, tetapi DJ datang ke Houston dalam keadaan segar secara mental dan fisik setelah beristirahat beberapa waktu yang lalu”, kata Harmon. “Dia mengalami sedikit kendala pada hari Kamis, namun mampu berlatih dengan baik pada hari Jumat dan Sabtu di Augusta. Dia memiliki kepercayaan diri yang baik. Itu adalah hal yang sangat besar. Tidak mengherankan jika dia memperoleh hasil yang maksimal pada hari Minggu.”

Hari Minggu adalah puncaknya. Dustin Johnson mampu memperoleh rekor skor turnamen (20 Under), rekor lain adalah berupa jumlah bogey paling sedikit (empat), serta 60 pukulan yang mengarah langsung ke green. Cameron Smith memiliki jarak yang lumayan dekat (hanya terpaut dua pukulan) dengan DJ pada hari Minggu, tetapi hasil akhirnya justru tidak maksimal.

“Adam Scott memberi tahu saya sesuatu di Boston yang merangkum hasil DJ dengan cukup baik. Tidak ada yang membuat game ini terlihat semudah dia,” kata Harmon. “Apa yang saya lihat minggu lalu adalah hasil kerja keras selama lima tahun. Dia pemain yang lengkap. Dia mampu menghilangkan perasaan tidak nyaman itu. Permainan stiknya (awalnya) diremehkan. Dia melakukan banyak hal dengan pendeknya. Dia dan A.J. adalah dua yang terbaik. Itu ditunjukkannya saat tur, tentang cara mereka bekerja sama, membuat keputusan, dan membaca kondisi lapangan. ”

“Menjadi bagian dari tim di belakang DJ minggu lalu, dan mengetahui namanya akan berada di trofi yang sama dengan kakek saya adalah hal yang sangat memuaskan,” kata Harmon.

“Saya menyaksikan A.J. menangis di green 18 dan DJ memeluknya, saya tahu sangat besar kerja keras yang dilakukan untuk itu. Mereka adalah ikon dari pembinaan yang baik. Disandingkan dengan para pelatih macam Cameron McCormick, Mark Blackburn, Mike Bender dan Sean Foley, dan pelatih pria termuda seperti Drew Steckel? Saya bangga bisa sukses di bagian kecil dunia golf ini, dan saya bangga menjadi bagian dari permainan golf modern”.