Logo BI/ perbanas.org
Bank Indonesia masih berpeluang turunkan suku bunga acuan
Bank Indonesia masih berpeluang turunkan suku bunga acuan

AGolf– Ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta menilai peluang BI 7 day Repo Rate turun masih tersedia walaupun kesempatan untuk itu akan lebih terbuka pada kuartal pertama 2017 nanti. Pasalnya, ketidakpastian global yang meningkat tajam di kuartal empat 2016 akan mencegah agresivitas pelonggaran kebijakan moneter paling tidak hingga FOMC meeting di tengah Desember 2016

“Cadangan devisa yang mulai tergerus aksi jual dollar oleh BI bisa ketatkan likuiditas rupiah jika tidak dibarengi akumulasi yang sama besar di pasar SUN,”sebut Rangga dalam riset hariannya, Rabu (16/11). Selain itu, perlu diwaspadai dampak revisi relaksasi peraturan ekspor minerba yang bisa berpengaruh negatif dalam jangka pendek bagi ekspor dan prospek PDB. Meskipun proyeksi Inflasi serta USD/IDR masing-masing masih dipertahankan di 3,3% year on year (YoY) serta Rp13.000 pada 2016 ini.

Di sisi lain neraca perdagangan stabil pada Oktober 2016 di US$1,2 miliar setelah ekspor tumbuh membaik ke 4,6% YoY dan impor tumbuh semakin cepat 3,3% YoY. Ekspansi permintaan domestik yang belum secepat kenaikan harga komoditas menjaga surplus perdagangan tetap tinggi. “Neraca transaksi berjalan yang terus menipis defisitnya akan mendukung tren penguatan rupiah walaupun aliran keluar dana asing bisa meminta depresiasi temporer yang tajam,”tambahnya.

Kenaikan harga komoditas seperti batubara, nikel dan bijih besi berhasil mendorong kenaikan ekspor dan tidak hanya nilai nominalnya tetapi juga volumenya. “Pandangan kami yang optimistis terhadap prospek harga komoditas berujung pada perkiraan surplus perdagangan yang konsisten dan melebar ke depan,”ujar Rangga. Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah yang melandai yang dibarengi oleh ekspansi permintaan domestik yang relatif lebih lambat juga menjadi alasan surplus perdagangan yang lebih tinggi.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Surplus perdagangan yang dibarengi menipisnya defisit neraca transaksi berjalan akan membentuk tren pergerakan rupiah yang cenderung menguat. Dengan asumsi rasio defisit neraca transaksi berjalan terhadap PDB yang turun ke kisaran 2% dan 1,8% hingga 2017, diperkirakan rerata rupiah akan menguat di 2017 dari Rp13,400 ke kisaran Rp13,000-13,200. Tetapi dalam jangka pendek, anjloknya surplus neraca finansial akibat ketidakpastian global bisa secara temporer meminta depresiasi tajam rupiah.

“Keinginan ECB, BoE dan BoJ yang masih ingin pertahankan kebijakan moneter longgar bisa jadi sumber likuiditas dollar tandingan di masa depan,”pungkasnya.