AGolf.xyz– Belum lama ini merek mewah asal Italia, Gucci meluncurkan sebuah jumper turtleneck rajut hitam untuk koleksi busana wanita. Namun selang beberapa jam setelah dirilis, Gucci menarik semua koleksinya baik secara toko fisik maupun online. Hal ini disebabkan banyaknya kritik yang ditujukan pada Gucci tentang Jumper Balaclava yang dianggap rasis.

Jumper Balaclava  merupakan salah satu bagian dari koleksi Musim Gugur/Musim Dingin 2018 yang dijual seharga USD 890 atau Rp12,5 juta. Jumper Balaclava menampilkan garis leher yang menutupi hidung pemakainya dengan lubang di sekitar mulutnya yang berwarna merah.

Produk tersebut dianggap menghina kaum kulit berwarna oleh para pengguna media sosial Twitter dan Instagram. Menanggapi kritik yang meluas, Gucci mengeluarkan pernyataan permintaan maaf di akun Twitter resminya.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

“Gucci sangat meminta maaf atas pelanggaran yang disebabkan oleh Jumper Balaclava. Kami dapat mengkonfirmasi bahwa barang tersebut telah dihapus dari toko oniline kami dan semua toko fisik. Kami berkomitmen penuh untuk meningkatkan keragaman di seluruh organisasi kami dan mengubah insiden ini menjadi momen pembelajaran yang kuat bagi tim Gucci dan selanjutnya,” tulis Gucci pada Kamis (7/2) di akun official Twitternya.

Dalam situs Gucci yang dilansir dari standart.co.uk, sebelumnya menyatakan jika koleksi Jumper Balaclava teinspirasi oleh topeng ski vintage. Dengan potongan jumper hingga menutupi idung memberikan nuansa misterius pada koleksi ini.

Ini bukan kali pertama sebuah merek fashion mewah yang diklaim rasisme. Tahun lalu rumah mode Prada juga mengalami hal serupa dengan koleksi Pradamalia yang dianggap rasis dengan menggambarkan citra wajah hitam. Koleksi Pradamalia menggambarkan sosok seperti monyet dengan wajah hitam dan bibir merah besar. Prada kemudian menarik semua produk dari seluruh toko fisik dan online mereka.