AGolf.xyz– Dunia mode menghadirkan sebuah inovasi terbaru pembuatan produk ramah lingkungan menggunakan kulit ikan. Desainer Brazil, Oskar Metsavaht mengubah kulit ikan pirarucu atau arapaima menjadi pakaian dan aksesoris ramah lingkungan. Metsavaht adalah pemilik dari brand fashion Brazil Osklen. Dia memutuskan untuk menempatkan kulit ikan untuk menciptakan sebuah kemewahan baru.

Lebih Ramah Lingkungan

Ikan arapaima telah menjadi makanan pokok oleh masyarakat Brazil di bagian utara selama berabad-abad. Mereka biasanya membuang kulit ikan setelah memakannya. Sang perancang mengembangkan bahan kulit ikan sebagai alternatif dari kulit sapi yang berbahaya bagi lingkungan. Peternakan sapi menjadi salah satu penyebab terbesar deforestasi (penghilangan hutan) di hutan hujan Amazon.

Kulit ikan arapaima lebih tipis dari kulit sapi, meski begitu kulit ikan lebih tahan lama, lebih lembut dan ramah lingkungan. Hal tersebutlah yang menjadikan kulit ikan arapaima sangat cocok untuk item yang banyak digunakan, mulai dari pakaian siap pakai seperti jaket, dan aksesoris seperti tas.

View this post on Instagram

[couro de pirarucu] nosso #efabric presente na @1.618paris #Repost @1.618paris (@get_repost) ・・・ For the second time, the amazing @institutoe and @osklen will join the 1.618 selection and will be part of the #1618biennale next June in Paris. They are going to present the impressive fabrics they participated to develop for fashion: the Pirarucu. Do you know what it is? Pirarucu is a fish used basically for food purposes. Its skin is not used and causes biological pollution when discarded. Its capture is made in a conscious and non-predatory way in what respects environment law and procreation periods. The tanning process of Pirarucu’s Bio-leather is made with natural dyers, avoiding chromium salts, which are extremely toxic and polluent. Come discover how they use this skin in a luxury way. You will not believe it! . . . . #sustainableluxury #newluxury #solutions #innovation #fairfashion #efabrics #osklen #institutoe #fashion #pioneer #changemakers #changingworld #1618paris #1618community #1618event #paris #carreaudutemple #sustainableweek #sustainablefashion

A post shared by Instituto-e (@institutoe) on

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Okslen membeli kulit ikan secara ekskusif dari komunitas yang dikelola secara ramah lingkungan, di mana ikan hanya ditangkap setelah mereka mencapai ukuran tertentu. Ukuran tersebut harus lebih dari 1,5 meter dan hanya 20 persen dari spesies dapat diambil dari masing-masing danau. Kemudian ikan akan diangkut ke penyamakan kulit, di mana kulit akan diproses lalu dikirim ke pemasok Osklen.

“Kami percaya dunia tidak dapat menangani limbah lebih banyak, selain itu tidak ada alasan dalam menciptakan produk yang terbuat dari bahan masih asli,” kata merek Osklen dilansir dari dezeen. “Kami mengeksplorasi sumber daya planet hingga batasnya, namun kami dapat menemukan dan menggunakan kembali bahan-bahan sampingan yang sudah ada lalu kami olah lagi, bukannya membuangnya.”

Awalnya kulit ikan ini sulit dijual karena tidak menarik bagi semua konsumen mereka, namun berbeda dengan merek Osklen yang menganggap jika kulit ikan dapat dijadikan sebuah produk ramah lingkungan. Pihak Osklen juga telah mengantisipasi jika kulit ikan akan langka dan menjadi sebuah produk yang tidak ekonomis. Maka pihak Osklen akan menyimpannya sebagai salah satu koleksinya dan menjadi sebuah tanda tentang pertumbuhan dan potensi kulit ikan sebagai pengganti kulit sapi.