Istana Negara/ twitter: @istananegara
Istana Negara/ twitter: @istananegara
Istana Negara/ twitter: @istananegara

AGolf– Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pentingnya pengelolaan aset dan kekayaan negara. Hal ini diungkap Sri Mulyani saat mengingat beberapa aset negara pernah luput dari pencatatan, salah satunya adalah Istana Negara.

Sri Mulyani mengatakan, pengelolaan aset negara, terutama yang dibangun dengan darah dan keringat para leluhur, tidak boleh luput dari pencatatan dan pengelolaan.

“Bayangkan ini adalah istana negara yang menjadi kediaman simbol pimpinan pemerintahan di RI tinggal, di Istana Negara yang kompleksnya tidak ada title,” ungkap Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (2/11/16).

Oleh sebab itu, setelah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dibentuk pada 1 November sepuluh tahun lalu, Istana Negara dimasukkan ke dalam aset.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

“Saya senang, kita sudah banyak mengusahakan banyak sekali properti atau kekayaan negara yang dulu tidak ada masuk neraca, sekarang kita melakukan simultan,” jelasnya.

Selain menyinggung soal Istana Negara, Sri Mulyani juga bercerita tentang Jalan Anyer-Panarukan yang dibangun pada zaman Herman Willem Daendels.

“Kalau kita ingat buku sejarah dulu, waku episode sejarah penjajahan Belanda yang paling menyengsarakan itu adalah pembangunan jalan raya dari Anyer-Panarukan. Itu zaman Daendels. Itu aset negara,” paparnya.

Meski sempat luput dari pencatatan, namun aset-aset bersejarah tersebut kemudian dicatatkan dan divaluasi.

“Dengan seluruh perjuangan sekarang aset negara ada dalam buku kita dan divaluasi,” tegas Sri Mulyani.

Pengelolaan aset negara tidak hanya bisa dimaknakan sekedar pencatatan. Akan tetapi juga bagian penghargaan terhadap para pendiri bangsa.

“Jadi sebetulnya tertib administrasi itu secara langsung adalah wujud pengorbanan banyak sekali pendiri bangsa dan rakyat yang ikut membangun dan menyepakati dalam konstitusi bahwa bumi, air, dan yang ada di dalamnya adalah kekayaan negara. Tidak hanya klaim,” tutup Sri Mulyani.