AGolf.xyz- Pemerintah Jepang akan mulai memberlakukan sistem visa wisata elektronik atau e-visa pada bulan April tahun 2020, atau menjelang Olimpiade Tokyo. Hal tersebut berarti, wisatawan harus mengajukan permohonan visa secara online.

View this post on Instagram

#japanvisa get✔️

A post shared by shixiaotian (@missshixiaotian) on

Dilansir dari japantoday.com, Jumat (19/10), pemerintah Jepang mengatakan bahwa hal tersebut bertujuan untuk membantu Jepang mencapat target 60 juta pengunjung asing per tahun 2030. Selain itu, sistem ini juga berfungsi untuk menyederhanakan proses aplikasi visa, mengurangi antrean pada misi diplomatik, dan memperketat kontrol imigrasi.

Untuk tahap awal, pemerintah Jepang akan menerapkan sistem permohonan visa lewat online kepada wisatawan asal Cina, setelah itu disusul untuk wisatawan dari negara lain. Ini berlaku khusus untuk permohonan visa sekali kunjungan.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Wisatawan Cina menjadi target permohonan visa online awal, sebab data yang didapat dari Kementerian Luar Negeri Jepang mencatat bahwa 60 persen visa yang dikeluarkan pada tahun 2017 lalu ditujukan bagi wisatawan asal Cina.

Penerapan kebijakan ini diperkirakan akan mengumpulkan dana hingga 43 miliar yen per tahun. Wisatawan yang akan menuju Jepang dapat mengajukan visa turis melalui sejumlah lembaga travel. Jepang mendata 28,7 juta pengunjung asing pada 2017, naik 19,3 persen dari tahun sebelumnya dan belanja mereka tahun lalu naik 17,8 persen sebanyak USD39 miliar.

Rencananya, pemerintah Jepang juga akan menambah jenis visa lain pada sistem baru tersebut. Warga Singapura telah mendapat visa pengunjung sementara 90 hari saat tiba di Jepang. Para wisatawan dari Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan dan Amerika Serikat juga diberi visa saat kedatangan. Dan Mulai Januari tahun depan, para wisatawan yang meninggalkan Jepang harus membayar pajak kepergian sebesar USD9,40 atau 1.000 yen sebagai “Pajak Sayonara”.