Justin Rose Featured Image
Justin Rose Featured Image / AGolf Design

AGolf.xyz – Justin Rose kembali ke No.1 dunia lagi, dan kali ini ceritanya lebih spesial. Tidak lagi menduduki peringkat tertinggi setelah kalah Playoff, maupun peringkat keempat untuk mendapatkan trofi FedExCup, Rose untuk pertama kalinya mempertahankan gelar profesionalnya di Turkish Airlines Open.

Mengejar gelar back-to-back pertamanya setelah tertinggal 3 strokes dan memaksa Playoff dari Li Haotong, Rose ternyata memerlukan 4 kali tahun kabisat untuk menciptakan rekor pribadi ini. Hal yang seringkali lebih cepat dilakukan oleh pegolf lainnya jika sudah menyandang No.1 dunia.

“Pekan ini lebih menyenangkan, karena kok jadi No.1 dengan kalah Playoff di BMW. Akhirnya, penantian puluhan tahun terbayar juga, dan kembali ke No.1 setelah memenangkan turnamen,” ucap Rose mengenai kemenangannya di Turki.

Perjalanan Rose Menuju Back-to-back

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Rose dikenal sebagai pegolf amatir yang melakukan birdie indah dari 50 kaki di sekitar rough, untuk menutup the Open 1998 di Royal Birkdale sebagai amatir terbaik ketika itu. Sehari setelah penganugrahan Silver Medal itu, Rose menjadi profesional yang sayangnya tidak seindah di bayangannya.

Rose terbentur CUT di 21 turnamen pertamanya secara beruntun, termasuk saat the Open 1999 mengundangnya kembali sebagai peringkat T.4. Di akhir musim 1999, Rose mengulang kariernya dari Q-School dan finis di tempat keempat. Namun, ia kembali gagal dan merangkak ulang dari Q-School 2000 dengan peringkat T.9 kali ini.

Pada 2001, kariernya mulai cemerlang dengan dua runner-up di negara asalnya, Afrika Selatan. Konsistensi ini menjadi awal peringkat 40 di Order of Merit, untuk mengikuti musim 2002 tanpa melewati Q-School lagi.

Tepat 20 Januari 2002, Rose mendapatkan gelar profesional pertamanya di Dunhill Championship yang diikuti dengan Nashua Masters di Sunshine Tour, dan The Crowns di Japan Golf Tour. Gelarnya di Victor Chandler British Masters pada pertengahan Juni 2002, juga menjadi awal kenaikan 50 besar dunia di musim mendatang.

Pada 2003, Rose yang diundang ke sejumlah turnamen untuk mempertahankan gelar, hanya menempati peringkat tertinggi T.7 di Dunhill Championship. Selanjutnya, ia lebih fokus di PGA Tour yang sayangnya kariernya meredup dan harus keluar dari Top-100 dunia, karena hasil buruk yang ia alami.

Baru di Australian Masters 2006, Rose menerima gelar pertamanya dalam 4 tahun yang tidak ia pertahankan setahun berikutnya, karena fokus di European Tour. Hasilnya, ia memperoleh gelar European Tour keempat di Volvo Masters dalam perjalanannya menjuarai Order of Merit 2007.

Kembali meredup pada 2008 dengan finis ke-57 di Volvo Masters, Rose perlu dua tahun lamanya untuk kembali ke tangga juara. Gelar PGA Tour pertamanya di Memorial Tournament 2010, menjadi awal dari 9 gelar PGA Tour hingga Fort Worth Invitational Mei lalu yang sayangnya tidak ada satupun gelar diraih dalam dua tahun beruntun. Rose memiliki dua gelar di turnamen yang sama, Quicken Loans National 2010 dan 2014.

12 bulan terakhir

Menjuarai WGC-HSBC Champions 2017 setelah tertinggal 8 strokes dari Dustin Johnson, Rose untuk pertama kalinya memenangi dua gelar beruntun dalam dua minggu berturut-turut di Turkish Airlines Open. Siapa sangka, turnamen inilah yang menjadi rekor pribadi pertamanya untuk ia menangi pekan ini.

Konsistensinya dengan gelar Indonesian Masters di Royale Jakarta Golf Club akhir tahun lalu, dan gelar FedExCup sebagai akhir dari finis ekstrim Top-8 di 6 turnamen terakhir, wajar juga menaikkan posisinya ke urutan teratas dunia September lalu.

Walaupun bertahan selama dua minggu, Rose tampil sangat konsisten dengan memiliki 11 Top-10 dari 13 turnamen setelah menjuarai Fort Worth Invitational di Colonial.

“Saya rasa, rata-rata 68,9 di PGA Tour merupakan yang terendah sepanjang karier saya. Kaget juga bisa membuat rata-rata serendah itu dan menutup musim lalu dengan gelar FedExCup, walaupun sedikit kecewa tidak dapat memenanginya. Di usia saya yang 38 saat ini, saya optimis peningkatan akan terus terjadi di masa depan,” komentar Rose.

Saat ini, Rose menghabiskan waktunya di Bahama, rumahnya untuk menyiapkan turnamen DP World Tour Championship Dubai, sebagai kesempatannya meraih titel Race to Dubai pertama. Namun, perburuan No.1 dunia kembali melibatkan Brooks Koepka, yang memiliki kesempatan mengambil spot ini lagi saat tampil di Dunlop Phoenix Open di Jepang pekan depan.

Jika kemudian Rose harus turun ke peringkat dua, ia bisa saja mengambilnya lagi di BNI Indonesian Masters saat berkunjung ke Jakarta bulan depan. Mendominasi turnamen tutup tahun 2017 dengan 29-under par 259, Rose memutuskan kembali ke Royale Jakarta Golf Club di Jakarta Timur, untuk menjadi mempertahankan atau mungkin merebut No.1 dunia di Indonesia.

Hal yang pernah dilakukan Lee Westwood saat menjuarai Indonesian Masters 2011, dan mungkin saja Indonesia menjadi saksi hadirnya No.1 di akhir tahun 2018 ini jika Rose mampu mempertahankan gelarnya. Semoga.

Justin Rose Infografis
Infografis karier Justin Rose / AGolf Design