AGolf.xyz– Para ilmuwan menemukan lukisan di dinding gua di Kalimantan yang diduga sebagai lukisan tertua di dunia. Gambar serupa hewan tersebut diduga sudah berusia 40.000 tahun. Lebih tua dibanding lukisan di dinding gua di Prancis dan Spanyol yang sebelumnya dianggap para sejarawan sebagai yang tertua di dunia.

“Gambar seni gua tertua yang kami temukan adalah lukisan besar hewan yang tidak dikenal, mungkin spesies sapi liar yang masih ditemukan di hutan Kalimantan,” Maxime Aubert, seorang arkeolog dan geokimiawan di Griffith University di Australia dan penulis utama studi ini dilansir dari travelandleisure.com, Senin (12/11), “Ini adalah karya seni figuratif paling awal yang diketahui.”

Maxime Aubert melakukan penelitian bersama dengan Pusat Penelitian Nasional Arkeologi Indonesia (ARKENAS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Gambar merah, yang memiliki lebar sekitar lima kaki, menggambarkan siluet binatang yang menyerupai banteng atau hewan sejenisnya. Selain banteng, tim juga menemukan stensil tangan merah dan berwarna ungu dan bahkan beberapa lukisan yang menggambarkan adegan manusia.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Laporan tentang gambar itu dirilis di jurnal Nature pada hari Rabu lalu. Ini membalikkan keyakinan bahwa lukisan figur muncul pertama kali di Eropa. Sekarang, karena temuan ini, para ilmuwan tahu praktik menggambar binatang dimulai secara bersamaan di kedua benua. Penemuan baru ini juga mengarahkan para ahli untuk mempertanyakan garis waktu untuk kelahiran kreativitas manusia. Para ilmuwan sekarang bertanya-tanya, apakah kreativitas ini berasal dari sesuatu yang evolusioner, atau apakah itu dipengaruhi oleh sesuatu yang historis?

Untuk mencapai gua batu kapur yang terpencil di Kalimantan, Aubert dan timnya harus menggunakan parang untuk membuka jalan di hutan yang lebat. Mereka berjalan melewati gua-gua menggunakan helm para penambang dan mencari lukisan yang dapat mereka identifikasi berdasarkan usia. Sebagian besar lukisan yang ditemukan oleh tim tidak dapat diteliti karena para ilmuwan bergantung pada endapan mineral khusus untuk pengujian.

Adapun mengapa pelukis gua 40.000 tahun yang lalu memilih untuk menciptakan gambar banteng, tidak ada yang cukup yakin. “Kami pikir itu bukan hanya makanan untuk mereka – itu berarti sesuatu yang istimewa,” kata Aubert.

Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan besar terjadi dalam budaya ini sekitar 20.000 tahun yang lalu, sehingga menimbulkan gaya seni cadas baru (termasuk penggambaran manusia yang langka) pada saat iklim zaman es global paling ekstrem.

“Siapa seniman zaman es di Kalimantan dan apa yang terjadi pada mereka adalah misteri,” kata rekan pemimpin tim Dr Pindi Setiawan, seorang arkeolog dan dosen Indonesia di ITB. Setiawan telah mempelajari seni ini sejak penemuannya, dan, bersama dengan ahli seni batu ARKENAS, Adhi Agus Oktaviana, memimpin ekspedisi ke gua Kalimantan.

“Temuan baru menggambarkan bahwa kisah tentang bagaimana seni gua muncul adalah kompleks,” kata Oktaviana.