AGolf.xyz – Festival Pinisi merupakan festival tahunan yang sudah ke-9 kalinya diadakan di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Festival ini tengah berlangsung antara 13-16 September dan sudah menjadi bagian dari 100 Wonderful Events milik Kementerian Pariwisata. Kapal Pinisi gagah dan elegan dengan popularitas yang sudah mendunia dan menjadi warisan budaya serta ikon Indonesia sebagai negara maritim.

Festival ini semuanya tentang kapal Pinisi yang merupakan warisan dari suku Bugis dan Makassar. Selama festival akan menampilkan semua ragam keahlian, proses pembuatan sampai peluncuran kapal Pinisi. Peluncuran kapal ini disertai dengan upacara ritual yang disebut ‘Annyorong Lopi’ yang dilaksanan di Tana Beru, Bontobahari yang juga sebagai lokasi pembuatan.

View this post on Instagram

Annyorong Lopi berasal dari Bahasa Konjo. Secara etimologi, annyorong berarti mendorong. Lopi itu perahu atau kapal. Ritual yang digelar di Desa Tanah Beru, Bonto Bahari, Bulukumba, pada Kamis (13/9) pun terasa sakral. Sehari jelang peluncuran, upacara sangka bala ammossi’ dan appasili dirilis. Doa dan asa keselamatan pun ditebar. Berikutnya, kengkeng jangang dipasang. Ini adalah tips masyarakat lokal menjaga agar lopi tidak miring. Caranya dengan memasang balok besar dan panjang di beberapa sisi lopi. Sehari berikutnya, gong pun ditabuh sebagai tanda ritual Annyorong Lopi dimulai. Digelar di batilang (galangan kapal) Desa Tanah Beru, Kamis (13/9) pagi, ritual dibuka manca atau pencak silat. Countdown Annyorong Lopi yaitu tra, ta, ju (satu, dua, tiga) ini diberikan. Aba-aba berupa laarilambatee disuarakan. Artinya, dorong yang kuat. Lalu, diteruskan kata-kata samakan tiang. Maknanya sama-sama pegang tali dan kuatkan tarikan. Untuk menarik Pinisi digunakan tali yang diikatkan pada haluan kapal. Dua disisi tali lalu ditarik sembari lopi didorong. Dilakukan 100 orang, ritual dimulai pukul 09.20 WIT. Dilakukan secara bergotong royong, Kapal Pinisi ditarik menuju bibir pantai. Jaraknya sekitar 50 meter dari batilang. Karena beban yang berat dan alas berpasir, pergerakan lopi sempat macet. Berbagai upaya dilakukan, seperti mencongkel lopi dengan balok. Pemberian la’lere (jenis tumbuhan merambat) sebagai pelicin diberikan di atas galasara (landasan perahu). Aktivitas Annyorong Lopi ditutup pukul 10.36 WIT. #FestivalPinisi2018 #PinisiBulukumba #AnnyorongLopi #PanritaLopi #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #ExploreSulsel #Bulukumba #GenPI #GenerasiPesonaIndonesia

A post shared by Emen Ardiansyah (@emenardiansyah) on

Sebelum dilakukan ritual, para masyarakat pembuat kapal melakukan prosesi mulai dari pemilihan kayu, pembuatan, pengerjaan hingga pemasangan mesin. Pembuatan perahu juga harus mengetahui hari baik untuk memulai pengerjaan dan tahapan-tahapan pembuatan hingga peletakan lunas harus melalui ritual. Ritual ini sekaligus menandai bahwa sebuah perahu Pinisi akan segera mengarungi samudra luas.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Ritual ini melibatkan para ahli pembuat kapal Pinisi yang disebut ‘Panrita Lopi’. Sebelum peluncuran kapal, diawali dengan prosesi appasili atau tolak bala. Prosesi dimulai dengan memercikan ramuan ke kapal. Puncak ritual adalah penetapan dan pemberian pusat pada pertengahan lunas perahu yang disebut ammossi. Kemudian prosesi peluncurkan kapal akan dilakukan secara bersama-sama oleh warga secara gotong-royong.

Festival ini juga terdapat kegiatan pelayaran yang diikuti oleh sejumlah kapal Pinisi dan kapal-kapal layar lainnya. Pelayaran ini diikuti oleh pelaut dari seluruh provinsi Sulawesi Selatan. Para pengunjung juga disuguhkan dengan berbagai acara tradisional seperti ritual Kajang atau yang disebut Kamp Addingingi dan Attunu Panroli.

Ritual Kajang adalah ritual dalam menyelesaikan suatu masalah dengan metode pembuktian warga Kajang dalam mencari keadilan. Serta pertunjukan tari tradisional Pabbitte Passapu dan demonstrasi pembuatan tenun Kajang. Semuanya ditampilkan untuk melestarikan budaya Kajang sekaligus menarik wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.

Selain pelayaran juga terdapat lomba memancing secara berkelompok yang digelar di sekitar Tanjung Bira. Setiap kelompok terdiri dari tujuh peserta dan pemenang ditentukan berdasarkan kelompok mana yang menangkap ikan terberat. Tetapi para peserta tidak diijinkan untuk menangkap ikan-ikan yang dilindungi seperti ikan napoleon dan hiu. Festival ini juga dimeriahkan dengan aneka kuliner, pameran kerajinan hingga pertunjukan seni tari tradisional.