AGolf.xyz- Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta ikut memeriahkan panggung JFW dengan menghadirkan karya lima perajin binaannya bertajuk “Spirit of Jakarta”. Keseluruhan busana yang dihadirkan terdiri dari 35 rancangan yang mengunggulkan ragam budaya dan tren di Jakarta. Busana tersebut merupakan hasil karya dari Nita Seno Adji, Batik Marunda, Klambi Abite, Batik Story dan Culture Edge.

Nita Seno Adji

Masing-masing perajin menghadirkan berbagai koleksi yang unik dan memukau para tamu undangan. Seperti halnya yang dihadirkan oleh Nita Seno Adji yang terinspirasi oleh kecantikan abadi bunga kerak nasi. Konon bunga kerak nasi atau dikenal juga dengan sangitan ini digunakan untuk merawat kecantikan wajah perempuan di masa lampau.

Nita menghadirkan keindahan bunga kerak nasi dalam balutan busana long dress dengan detail bordir bunga kerak nasi. Nita menggunakan warna-warna cerah seperti peach, hijau muda dan biru tua yang dikombinasikan dengan outer transparan berwarna abu-abu.

Batik Marunda
Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Berbeda halnya dengan Batik Marunda yang mengangkat nilai sosial dan budaya gotong royong dalam busana batik modern. Filosofi gotong royong menjadi ciri khas Batik Marunda yang tampil dengan tema flora fauna. Sebagian besar koleksi yang dihadirkan memiliki warna dasar hitam yang dikombinasikan dengan motif batik beraneka warna seperti hijau, mustard, abu-abu, biru, dan merah.

Klambi Abite

Nama Klambi Abite memiliki arti pakaian yang dibuat dari kain-kain dari seluruh Indonesia. Klambi Abite didirikan pada tahun 2016 oleh dua orang sahabat Noviaty Mudita dan Kartika Lubis. Dalam JFW 2019 mereka mengusung tema “Java and Batavia Nature Hybrid” yang mengkombinasikan cerahnya batik Betawi dengan lurik khas Yogyakarta.

Motif Betawi yang dipilih antara lain ondel-ondel, Tugu Monas, tanjidor dan beberapa ikon Jakarta lainnya. Dengan perpaduan kedua motif yang berbeda menghasilkan sebuah busana unik yang disertai dengan aksesoris tas dan payung tradisional.

Batik Story

Batik Story milik Aditya Bregas Pradana ini menghadirkan busana batik dalam desain modern yang disesuaikan dengan keinginan kaum milenial yang dinamis dan penuh tantangan. Aditya memodifikasi bermacam-macam motif batik seperi kawung, nitik dan trutum yang diaplikasikan dalam satu busana. Koleksi yang dihadirkan memiliki desain lebih santai dan kasual serta penambahan aksesoris topi yang membuat penampilan semakin keren.

Culture Edge

Sementara itu Culture Edge karya Linda dan Sarah mengusung tema “Look to Eas Sumba Glam”. Keduanya memilih tema ini karena mereka ingin menghadirkan tren fashion di Jakarta mengarah ke timur Indonesia. Culture Edge menghadirkan koleksi dengan motif keelokan Sumba dalam berbagai busana modern.