AGolf.xyz– Laptop yang berada di sebuah ruangan khusus di kota New York ini merupakan laptop paling berbahaya di dunia. Dan karena berbahaya, maka laptop tersebut akhirnya dilelang dengan harga ratusan ribu dolar. Lebih tepatnya USD403 ribu atau sekitar Rp5,8 miliar.

Forbes

Dilansir dari Forbes, Senin (20/5), laptop tersebut merupakan proyek berkedok seni yang diberi nama The Persistence of Chaos. Laptop tersebut dianggap berbahaya, karena memiliki enam malware mematikan yang tersimpan di dalamnya.

Laptop tersebut memiliki merek Samsung NC10-14GB 10,2 inci Blue Netbook, dan memiliki sistem operasi Windows XP SP3. Enam jenis virus di dalamnya sempat mengguncang dunia dan menyebabkan kerugian hingga mencapai USD100 miliar.

Enam virus maleware mematikan 

1. WannaCry : Virus ini muncul pada bulan Mei 2017, dan menginfeksi lebih dari 200.000 komputer di lebih dari 150 negara.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

2. BlackEnergy : Virus ini muncul sejak tahun 2007, dimana virus tersebut menjadi penyebab pemadaman listrik besar-besaran yang terjadi di Ukraina pada bulan Desember 2015 lalu.

3. ILOVEYOU : Muncul sejak bulan Mei 2000, virus ini mengirimkan email ke setiap orang di daftar kontak pengguna dengan lampiran ‘LOVE-LETTER-FOR-YOU.txt.vbs.’ Virus tersebut ternyata berbahaya, karena dapat menghapus semua jenis file, termasuk dokumen Microsoft Office, file gambar, dan file audio.

4. Mydoom : Pada bulan Januari 2004, virus ini muncul berupa worm email yang paling cepat menyebar, bahkan lebih cepat daripada virus ILOVEYOU.

5. Sobig : Program jahat jenis worm ini yang pertama kali menginfeksi komputer pada bulan Agustus 2003 melalui email.

6. DarkTequila : Virus ini muncul sejak tahun 2013, dan banyak menginfeksi komputer di Amerika Latin. Virus ini berbahaya, karena dapat mencuri kredensial bank, data perusahaan, dan informasi pribadi yang ada di dalam komputer. Virus ini menyebar melalui email dan USB flash disk.

Laptop yang merupakan hasil kolaborasi seniman Guo O Dong, dengan perusahaan keamanan cyber Deep Instinct ini dijual untuk tujuan akademik. Mereka ingin menyampaikan, bahwa betapa rapuhnya kehidupan yang terhubung dengan mesin, dan agar publik juga lebih berhati-hati terhadap bahaya virus komputer dan memahami tentang keamanan cyber.

“Saya menciptakan The Persistence of Chaos karena saya ingin melihat bagaimana dunia merespons dan menghargai dampak malware,” ujar Dong.

Agar laptop ini aman, laptop tersebut disimpan di sebuah ruangan khusus, dengan lokasi yang tidak diungkap dengan jelas. Laptop tersebut juga tidak terhubung dengan jaringan apapun, agar mencegah penyebaran virus.

Bagi yang ingin membeli laptop berbahaya tersebut, pembeli harus memiliki alasan seni atau akademis dan berjanji untuk tidak menyebarkan virus malware tersebut yang berada di dalamnya.