Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat didampingi Kepala Biro Humas Kementerian Perindustrian Setia Utama serta Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat didampingi Kepala Biro Humas Kementerian Perindustrian Setia Utama serta Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat didampingi Kepala Biro Humas Kementerian Perindustrian Setia Utama serta Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya

AGolf – Industri nasional dinilai akan menghadapi tantangan yang semakin berat mengingat derasnya arus masuk era globalisasi. Oleh karena itu, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi salah satu strategi untuk meraih peluang sekaligus memenangkan persaingan pasar yang semakin ketat

Sekretaris Jenderal Kemenperin, Syarif Hidayat mengungkapkan seperti comprehensive economic partnership agreement/CEPA dan yang saat ini sedang berlangsung, Masyarakat Ekonomi ASEAN.

“Sebagai bangsa yang besar dengan penduduk terbesar di Asia Tenggara, Indonesia melihat ini bukan hanya sekedar sebagai sebuah tantangan, tetapi ada peluang yang harus kita raih dan perjuangkan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (8/11).

. “Perindustrian dan standar merupakan satu bagian. Apalagi, Kemenperin punya tugas di RPJMN sampai tahun 2019 bahwa industri harus berdaya saing,” tuturnya.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Syarif mengungkapkan, produk yang saat ini cukup sulit untuk mencapai efisiensi dan standarisasi tinggi, diantaranya komponen otomotif dan perkapalan. “Karena melalui standar akan lebih efisien untuk memproduksinya. Untuk itu, Pemerintah punya kepentingan untuk penerapan standardisasi,” ujarnya.

Dia mengatakan, penerapan SNI ini perlu koordinasi kuat dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran dan membangun budaya standar di masyarakat Indonesia. “Dengan momentum peringatan Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional 2016, kami memberikan apresiasi kepada BSN atas penyelenggaraan Pameran IQE ke-4,” ungkapnya.

Menurut Syarif, standar dan penilaian kesesuaian, juga sebagai salah satu alat yang bisa digunakan untuk menyaring derasnya produk impor yang masuk ke pasar domestik. Di sisi lain, dapat melindungi konsumen dari bahaya keamanan, kesehatan, keselamatan serta kelestarian lingkungan.

“Sesuai dengan amanah dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa negara harus melindungi segenap bangsa Indonesia, maka peran standardisasi dan penilaian kesesuaian menjadi sangat penting dan akan menjadi sebuah keharusan menerapkannya di masa yang akan datang,” paparnya.

Sementara itu, Kepala BSN Bambang Prasetya menjelaskan, pihaknya berfokus untuk terus membina dan mengembangkan standardisasi di Indonesia. “Kami terus mengembangkan SNI dan sistem penilaian kesesuaian yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan sehingga tercipta produk nasional yang berdaya saing, mendunia dan sekaligus membanggakan,” tuturnya.

Untuk itu, Bambang berharap, pameran IQE 2016 dapat menjadi spirit dan komitmen bersama para pemangku kepentingan untuk memajukan standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia, serta bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dam pengunjung pameran.

Pameran IQE 2016 berlangsung selama empat hari, tanggal 8-11 November 2016 di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta. Kegiatan yang dibuka untuk umum mulai pukul 09.00-17.00 WIB ini menampilkan berbagai produk berlabel SNI yang diikuti 31 peserta baik dari industri, lembaga penilaian kesesuaian, perguruan tinggi, serta pemerintah.