Gedung Museum 10 November/ Taufik

AGolf.xyz– Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan. Sejarah mencatat betapa heroiknya rakyat dan tentara Indonesia yang pro kemerdekaan mempertahankan kedaulatan Indonesia dari ancaman Inggris yang diboncengi Belanda di kota ini. Sebanyak 16 ribu pejuang gugur dalam pertempuran Surabaya yang berlangsung selama tiga minggu untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.

Mumpung November dan kami sedang berada di ibu kota Jawa Timur, kami memutuskan mengenang kembali perjuangan para pejuang di Museum Pahlawan. Siang itu suasana di sekitar Tugu Pahlawan Surabaya begitu lengang. Hanya terlihat beberapa orang di sekitar lapangan dan selasar di pinggir lapangan yang sedang asik bersantai atau sekedar berfoto ria dengan latar tugu pahlawan. Beberapa orang lainnya bekerja membangun tenda dan panggung untuk persiapan upacara Hari Pahlawan yang hanya berselang beberapa hari lagi. Kami masuk menyusuri selasar yang ada di pinggir barat lapangan Tugu Pahlawan. Sekitar 100 meter di depan saya berdiri sebuah bangunan pintu masuk Museum 10 November. Di kaca depan ruangan pegawai karcis terdapat sebuah pamflet yang bertuliskan biaya masuk ke museum 10 November. Harga yang tertera adalah Rp5000 yang tertera dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

Tugu Pahlawan/ Taufik

Setelah melakukan pembayaran untuk pembelian tiket, kami bergegas masuk kearah museum. Museum 10 November berada di bawah tanah. Untuk sampai kesana, kami melewati sebuah jalan turun yang tidak terlalu curam membentuk lingkaran. Di dinding turunan terdapat beberapa kata-kata motivasi yang menggugah semangat. Kami berasumsi, kata-kata ini dipekikkan para pejuang dalam perang dahulu sebagai pembakar semangat. Setelah melewati turunan membentuk lingkaran, kita belum juga akan sampai ke museum. Kita perlu melewati sebuah eskalator turun. Sampai di bawah, kita akan menemukan beberapa foto di dinding yang memuat informasi seputar bangunan Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, termasuk salah satunya adalah gambar peletakan batu pertama pembangunan Tugu Pahlawan dan Museum 10 November oleh Presiden Pertama RI yang disertai penjelasan di bagian bawah gambar.

Berjalan lurus sedikit kami sampai pada pertigaan. Jika lurus maka kami mengarah keluar museum, sedangkan ke kiri adalah arah menuju museum. Kami tidak langsung menuju ke museum. Di sebelah kanan pertigaan tepatnya di dinding terdapat sebuah papan berisi nama-nama pejuang yang memiliki andil besar pada pertempuran 10 November. Kami penasaran dengan nama-nama besar yang ada di sana. Sebut saja M. Jasin, Komandan Polisi Istimewa, HR Moehammad, Pimpinan BKR Darat Jawa Timur sampai dengan Gubernur Soerjo, Gubernur pertama Jawa Timur. Nama-nama lainnya juga terpampang, termasuk perkumpulan-perkumpulan pejuang dari berbagai daerah yang bahkan berasal dari luar Jawa, seperti Perkumpulan Pemuda Sulawesi, Pemuda Bali, Kalimantan dan lain-lain.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Kami hanya mengambil satu atau 2 gambar di lokasi itu. Segera bergegas menuju museum. Dengan pintu masuk yang lumayan lebar, kami hampir bisa melihat semua isi dalam ruang utama museum. Sebuah patung terdapat beberapa orang pejuang, 3 atau 4 diantaranya telah gugur sedangkan satu lainnya masih berlutut dengan menenteng senjata dengan moncongnya mengarah ke atas. Di pinggir patung itu terdapat foto-foto seputar perjuangan disertai penjelasannya. Kami berkeliling (karena foto-fotnya dipajang membentuk lingkaran) melihat dan membaca hampir semua penjelasan mengenai foto.

Patung yang menggambarkan perjuangan para pejuang dalam Pertempuran Surabaya/ Taufik

Puas dengan pemandangan awal itu, kami menyusuri pinggiran ruang utama. Terdapat beberapa foto, informasi pejuang, salah satunya adalah HR. Moehammad, yang juga pengobar semangat arek-arek Suroboyo di kala perang mempertahankan kemerdekaan. Di salah satu sisi ruangan terdapat gambar Bung Tomo, salah satu pahlawan Nasional yang dianggap sangat berjasa mengobarkan semangat para pejuang pada pertempuran 10 November. Di pinggir gambar tertulis seluruh isi pidato Bung Tomo yang dikumandangkan sehari sebelum pecah Pertempuran 10 November itu.

Selain gambar dan tulisan, juga terdapat sebuah radio dan sakelar untuk menghidupkan radio jika ingin mendengarkan pidato Bung Tomo yang terkenal dalam bentuk suara. Kami lantas menekan sakelar tidak sabar ingin mendengarkan orasi pembakar semangat pertempuran 10 November itu. Merinding rasanya mendengarkan begitu lantang dan gagahnya seorang orator ulung memekikkan semangat untuk para pejuang yang berlaga di palagan 10 November. Rasanya tidak ingin beranjak dari radio tersebut. Tapi kami masih ingin menjelajah lantai 2. Bergegas kami menapaki tangga menuju lantai 2.

Infografis tentang Bung Tomo/ Taufik

Di lantai 2, kami disuguhi beberapa foto masih seputar pertempuran 10 november, termasuk beberapa replica persenjataan yang digunakan oleh pejuang Indonesia atau Belanda dan sekutu. Persenjataannya meliputi senjata otomatis, semi otomatis, pistol dengan berbagai kaliber sampai dengan bambu runcing, keris, belati, dan golok. Di salah satu sudut juga terdapat sebuah replika yang memperlihatkan para pejuang BKR saling bahu membahu bersama rakyat pada masa perang. Di plafon museum terdapat sebuah bentuk limas terbalik yang di sisinya terdapat gambar para pejuang. Diantaranya, Bung Karno dan Bung Hatta sekaligus dengan beberapa kata-kata mereka yang terkenal mengenai pahlawan. Ada juga gambar para pejuang pengobar semangat rakyat pada pertempuran 10 November diataranya para Kiai (KH. Wahab Chasbullah, KH Hasjim Asy’ari), tokoh pergerakan (Doel Arnowo) serta para Pejuang dari Militer.

Senjata-senjata yang digunakan para pejuang/ Taufik

Puas menikmati sejumlah informasi sejarah yang ada di ruang utama lantai 2, kami menuju salah satu ruangan dirama statis. Disini kami disuguhkan sebuah miniatur yang kemungkinan dimaksudkan menambah visual agar imajinasi penonton seolah-olah berada seperti yang dijelaskan oleh suara pada speaker yang terdapat di bagian pinggir diorama statis. Di pinggir luar bagian bawah miniatur terdapat sebuah layar kecil berisi video infografis penjelasan setiap detail peristiwa yang disuarakan dari speaker. Kami mendengarkan dengan hikmad setiap penjelasan dari dari diorama tersebut. Dalam setiap ruangan terdapat 3 atau 4 diorama yang masing-masing  menjelaskan 1 peristiwa penting seputar pertempuran 10 November. Sayangnya kami hanya masuk ke 1 ruangan diorama statis yang berisi rangkaian peristiwa sebelum pertempuran 10 November, salah satunya adalah peristiwa pertempuran 3 hari di Jembatan Merah, sebelum akhirnya berakhir dengan perundingan di Gedung Internatio, bangunan yang terdapat di seberang Jembatan Merah Plaza (sekarang).

Jam menunjukkan pukul 14.00. Sebenarnya masih sangat banyak sekali yang belum kami gali informasinya mengenai pertempuran 10 November di Museum 10 November. Namun, rasa lapar tidak bisa lagi diajak kompromi. Kami bergegas menuju pintu keluar museum. Di dekat eskalator naik menuju pintu keluar museum kami melihat sebuah toko merchandise. Dengan sedikit menahan rasa lapar, kami berbincang dengan penjaga toko, menanyakan harga dan varian merchandise. Sebuah kaos dengan gambar mirip lambang dasar klub bola FC Barcelona bertuliskan SIVB membuat kami penasaran. Setelah sedikit membaca penjelasan di bawah gambar itu, tahu lah kami kalau itu adalah lambang klub Persebaya Surabaya di awal pembentukannya (1927). Dengan harga Rp 100.000, kaos SIVB atau zaman sekarangnya Persebaya Surabaya itu sudah di tangan. Segera kami bergegas menuju pintu keluar museum. Rasa-rasanya rawon (makanan khas Surabaya) sudah bisa mengisi kekosongan perut kami.