AGolf.xyz- Hari masih pagi, belum genap pukul 08.00 ketika puluhan lelaki berpakaian serba hitam dan mengenakan ikat kepala batik turun dari mobil bak terbuka di sebuah masjid di Dusun Kaliurip, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (28/9).

Rombongan itu rupanya tidak sendiri, masih ada beberapa mobil lain yang membawa rombongan berpakaian serupa. Ada juga puluhan wanita berpakaian kebaya lengkap dengan kain jarik dan memakai caping, penutup kepala khas petani di Jawa.

Pria maupun wanita dalam rombongan itu masing-masing membawa sebuah “lodhong”, potongan bambu yang berfungsi untuk menampung air. Sementara ratusan warga sekitar juga memenuhi jalanan untuk menyaksikan.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Prosesi dimulai dengan pembacaan doa oleh sesepuh desa. Puluhan pria dan wanita pembawa lodhong itu pun kemudian berbaris. Mereka kemudian berjalan berarakan tanpa alas kaki dengan menyusuri jalan sepanjang kurang lebih 2 kilometer melewati kebun dan perbukitan di lereng Gunung Slamet.

Sepanjang jalan sholawat dilantunkan dengan diiringi tabuhan rebana. Tujuan mereka adalah sebuah mata air atau dalam bahasa Jawa disebut Tuk.Tuk ini dinamakan Sikopyah, konon katanya karena Kyai Mustofa, salah satu penyebar agama Islam di wilayah Gunung Slamet pernah kehilangan kopiahnya di mata air tersebut. Selain cerita rakyat tersebut, masyarakat menghargai keberadaan mata air ini karena fungsinya. Keberadaan mata air ini sangat vital bagi penduduk Desa Serang dan sekitarnya. Kurang lebih 10 ribu penduduk dari tiga desa menggantungkan kebutuhan airnya dari mata air ini.

Setelah arak-arakan pembawa lodhong sampai di mata air, sesepuh akan kembali memimpin doa. Kemudian satu per satu lodhong akan diisi air dari Tuk Sikopyah. Setelah ritual “nyidhuk banyu” berakhir dan lodhong mereka terisi, arak-arakan ini menuju Rest Area Lembah Asri. Disana prosesi dilanjutkan dengan “Ruwat Bumi”, yang merupakan tujuan akhir air dari mata air Sikopyah. Ritual Ruwat Bumi dilakukan dengan media wayang kulit. Selesai ritual, air kemudian diperebutkan oleh warga yang mengikuti prosesi ini.

Kearifan lokal yang bertujuan menunjukkan rasa syukur serta menjaga harmoni alam dengan warga sekitar ini sudah dilakukan secara turun temurun. Masyarakat percaya sumber mata air Sikopyah harus dijaga kelestariannya tidak hanya dengan ritual tersebut, tapi juga melalui peraturan desa yang melarang warga untuk menebang pohon di sekitar mata air yang menghidupi puluhan ribu penduduk ini. Kirab air Tuk Sikopyah ini juga merupakan salah satu rangkaian Festival Gunung Slamet 2018.