zara

AGolf.xyz– Inditex, perusahaan retail fesyen terkemuka asal Spanyol, akan menutup 1000 hingga 1200 toko di seluruh dunia setelah merugi karena pandemi COVID-19. Dilansir dari The Guardian, Inditex mengalami penurunan penjualan sebesar 44% menjadi € 3,3 miliar atau sekitar Rp53 triliun antara 1 Februari dan 30 April, kuartal pertama tahun keuangannya. Perusahaan melaporkan kerugian bersih € 409 juta atau sekitar Rp6,5 triliun selama kuartal tersebut. Hampir seperempat dari tokonya tetap tutup pada 8 Juni.

Dengan penutupan ini total toko akan turun dari 7.412 menjadi antara 6.700 dan 6.900 setelah reorganisasi, yang juga akan mencakup pembukaan 450 toko baru. Inditex akan mengubah strateginya dengan mencoba untuk meningkatkan penjualan online selama pandemi Covid-19. Pertumbuhan penjualan online selama pandemi menutupi beberapa kelemahan penjualan, kata Inditex. Penjualan online naik 50% YoY selama kuartal tersebut, dan naik 95% YoY pada bulan April.

Penutupan diperkirakan akan  terkonsentrasi di Asia dan Eropa. Meski demikian, Inditex mengatakan bahwa jumlah karyawan akan tetap stabil, mereka akan ditawarkan peran dalam pekerjaan lain seperti mengirim pembelian online.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Inditex mengatakan akan mempercepat dorongannya untuk menjual lebih banyak pakaian secara online untuk menangkis tantangan dari para pesaing kelas atas seperti H&M dan pemilik Uniqlo, Fast Retailing. Inditex menargetkan penjualan online akan mencapai lebih dari 25% dari total pada tahun 2022, dibandingkan dengan 14% pada tahun keuangan 2019. Toko yang lebih besar akan bertindak sebagai pusat distribusi untuk penjualan online.

Perusahaan ini memiliki merek-merek pengecer fesyen terkenal seperti Zara, Pull & Bear, Massimo Duti, Bershka, Stradivarius, OYISHO, dan Uterque.