AGolf.xyz- Sebuah museum seni baru akan dibuka di bawah Pegunungan Alpen, Swiss. Museum ini dibangun di ruang bawah tanah unik yang dulunya merupakan sebuah biara abad pertengahan dan tempat pembuatan bir. Museum ini terletak di lembah sungai Inn di The Engadine dalam latar belakang pegunungan Alpen Swiss yang indah.

Muzeum Susch akan dibuka pada Januari 2019 yang akan menampilkan berbagai karya seni yang terinspirasi oleh lokasi sepanjang rute gunung. Pameran pembukaan museum ini dipimpin oleh Kasia Redzisz yang juga menjabat sebagai kurator di Tate Liverpool. Pameran ini akan menampilkan lebih dari 30 karya seniman internasional.

It’s official: Muzeum Susch will be open to the public 2 January 2019, with both site-specific permanent artworks and a regular programme of curated, temporary exhibitions; the museum will extend its activities with an annual discursive symposium, Disputaziuns Susch; a residency for artists, choreographers, writers and scientists, Temporars Susch; an academic institute supporting research on gender issues in art and science, Instituto Susch, in collaboration with Institut Kunst, Basel; and Acziun Susch, an extension of the existing performative programme in Poznań (Poland), Old Brewery New Dance. ARTnews reports interviewing #grazynakulczyk about the 5 pillars’ interconnected activities: “Each of these pillars of the museum examine and showcase artists, movements, and ideas that have been marginalized or left outside the canon,” Kulczyk said. “My own history as an independent, creative entrepreneur is at the root of this. I understand and have an emotional connection with the issues women face in their artistic endeavors. . . . The museum will seek to give a voice and platform to those who have previously not had the opportunity to be heard.” #muzeumsusch #disputaziunssusch #temporarssusch #acziunsusch #institutosusch @artnewsmag

A post shared by Muzeum Susch (@muzeumsusch) on

Ruang untuk pameran telah ditata dalam bentuk menarik dan unik dengan struktur yang ada telah dipulihkan dan diperluas. Elemen batu dari gunung yang ada di dalam maupun luar museum dibiarkan tetap alami dan utuh.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Museum ini terdiri dari tiga bangunan yang saling berhubungan dengan sebuah restoran dan ruang yang akan menjadi tempat tinggal seniman. Untuk menciptakan proyek ini dibutuhkan waktu satu tahun penggalian dengan gergaji agar 9.000 ton batu bisa digeser dan tercipta lorong bawah tanah yang akan membawa para pengunjung dari satu sisi museum ke sisi lain.

Muzeum Susch memiliki luas 1.500 meter persegi dengan ruang galeri yang akan menampilkan karya seni permanen dan program reguler pameran kurasi. Acara yang berlangsung di museum ini juga meliputi simposium diskursif (diskusi yang disimpukan secara logis) tentang isu-isu gender dalam seni dan sains. Selain itu museum ini juga menawarkan program residensi yang mengundang para seniman, kurator, koreografer, penulis dan peneliti untuk menciptakan pekerjaan di wilayah pegunungan.

“Muzeum Susch menyediakan ruang bernafas yang unik dan memungkinkan untuk memunculkan ide-ide tak terduga muncul ke permukaan. Dengan lokasi terpencil dan pedesaan, museum ini mendorong peenungan dan meditasi pada saat yang sama sebagai kebebasan berfikir. Warga Susch menyambut positif museum ini dan terlibat dalam konsultasi selama proses restorasi dan pembangunan,”kata Mareike Dittmer, direktur Museum Susch dilansir dari lonelyplanet.com.