Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih

AGolf– Kementerian Perindustrian aktif mendorong para industri kecil dan menengah (IKM) untuk memasarkan produknya di marketplace. Sejalan kebijakan itu, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin telah membuat infrastruktur sarana perluasan pasar e-Smart IKM yang telah dimulai pada tahun lalu.

Adapun sembilan komoditas unggulan yang didorong masuk ke dalam e-Smart IKM, yaitu makanan dan minuman, logam, kosmetik, perhiasan, kerajinan, herbal, suku cadang kendaraan, furnitur, dan fesyen. “Kami akan mengembangkan industri yang memiliki bahan baku lokal,” ungkap Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningish di Jakarta, ditulis Senin (12/2).

Dalam implementasi program e-Smart IKM, Kemenperin sudah menjalin kerja sama dengan beberapa marketplace lokal, antara lain BliBli, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan Blanja. Sepanjang tahun 2017, sebanyak 1736 IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM.

Pada tahun 2018, ditargetkan bisa mencapai 4000 IKM dan bertambah hingga 5000 IKM tahun 2019. “Nantinya sarana infrastruktur perluasan pasar e-Smart IKM diharapkan menjadi ‘Virtual Sentra IKM’ yang akan meningkatkan daya saing produk serta mempermudah akses pasar dalam negeri maupun global,” papar Gati.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Menurutnya, e-Smart IKM memberikan jaminan produk, jaminan keamanan dan jaminan standard. “Konsep dari pembinaan e-Smart IKM ini kami balik dari hilir ke hulu. Jadi, melihat pasarnya dahulu, kemudian mengetahui apa yang diproduksi,” jelasnya.

Program e-Smart IKM ini diyakini akan meningkatkan daya saing IKM nasional agar semakin kompetitif di kancah internasional. Untuk itu, adanya serbuan produk impor yang beredar melalui pasar online saat ini, Gati berharap kepada IKM lokal bisa ikut meramaikan produk-produknya. “Semoga IKM dalam negeri dapat memperluas pasar produknya serta lebih dikenal oleh masyarakat nasional hingga internasional,” imbuhnya.

Gati menjelaskan, melalui workshop e-Smart IKM, peserta dibekali pelatihan selama dua hari meliputi pengetahuan untuk peningkatan daya saing dan produktivitas usahanya serta sosialisai fasilitas yang bisa diakses dari Kemenperin. Materi tersebut berupa informasi mengenai kredit usaha rakyat (KUR) yang bekerjasama dengan BNI dan memperkenalkan teknis akunting sederhana dari Bank Indonesia bagi IKM agar mereka bisa memperoleh KUR.

Selain itu, diberikan informasi mengenai restrukturisasi mesin dan peralatan, standarisasi produk, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), SNI wajib, sertifikasi untuk pangan, kemasan produk, pengenalan produk, serta pengetahuan-pengetahuan mengenai pengembangan produk dan strategi penetapan harga. Pada hari kedua, peserta workshop e-Smart IKM juga diberikan pengetahuan tentang cara foto produk, mengunggah foto dan cara berjualan di marketplace.

Gati menambahkan, pembinaan program e-Smart IKM itu tidak berhenti pada dua hari workshop saja. “Kepada para IKM yang hasil produksinya belum laku di marketplace, akan dilakukan pembinaan lanjutan berupa pelatihan SDM, pendampingan proses produksi, desain produk dan kemasan, serta bantuan mesin dan peralatan melalui program restruksturisasi,” jelasnya.