Kondisi di dalam papan klasemen The Masters / masters.com
Kondisi di dalam papan klasemen The Masters / masters.com

AGolf.xyz – The Masters dengan berbagai tradisinya, masih mempertahankan penghitungan manual di papan klasemen saat turnamen lainnya menggunakan format digital. Beberapa relawan yang ditugaskan untuk menjaga skor, bertanggungjawab atas skor yang semakin penting tanpa adanya penonton.

Biasanya, tepuk tangan dan teriakan sering mengindikasikan siapa yang sedang memimpin skor di hole mana. Kini, peran penjaga skor di papan klasemen sangatlah krusial.

“Mendengar teriakan yang terdengar di lapangan, bisa mengisyaratkan seseorang di depan saya sedang membuat skor bagus. Mungkin, ada pegolf yang membuat eagle di hole 13 atau 15,” kata Patrick Cantlay.

“Pekan ini sangat berbeda, dan saya akan mencari papan klasemen yang selalu diperbarui untuk mengetahui skor terkini tanpa mendengar teriakan penonton,” sambung Brooks Koepka.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone
Tiger Woods dan Louis Oosthuizen saat membuat 4-under di putaran pertama The Masters / masters.com
Tiger Woods dan Louis Oosthuizen saat membuat 4-under di putaran pertama The Masters / masters.com

Papan klasemen yang ditunjukkan di beberapa spot penting Augusta National, menampilkan 10 pegolf dengan skor terendah di satu waktu. Masing-masing pegolf akan ditampilkan seluruh skor dalam par, untuk setiap holenya. Angka merah menandai under-par, hijau over-par, sedangkan hijau dengan angka 0 berarti even-par.

Tradisi yang telah dimulai sejak 1960 ini, telah dialami Jack Nicklaus saat memenangkan The Masters 1963. Nicklaus yang tidak bisa membedakan merah dan hijau, diingatkan caddienya Willie Peterson kalau angka 72-hole telah mencapai 2-under.

“Tiba di hole 18, saya melihat angka 2 yang saya yakin itu milik saya. Tetapi, banyak sekali angka 1 yang memberikan persepsi apakah ini 1-under atau 1-over,” kata Nicklaus. Dibalas Peterson, “itu semua dalam warna hijau, kamu sedang memimpin Jack.”

Itu menjadi Green Jacket pertama dari total enam gelar hingga 1986.

Tahun ini, penghitungan yang dilakukan oleh para relawan terlihat lebih sulit karena penggunaan dua tee dari hole 1 dan 10. Relawan juga perlu memastikan pegolf yang memulai dari hole 10, akan menampilkan skor berwarna merah dari kanan ke kiri alih-alih kiri-ke-kanan seperti biasanya.

Beberapa pemain mengungkapkan, tanpa penonton minggu ini membuat mereka selalu memperhatikan skor terkini saat papan klasemen menampilan pembaruan.

“Saya melihat terlalu sering,” kata Justin Thomas usai putaran kedua. “Papan klasemen sangat besar dan itu membuat saya tidak bisa memalingkan wajah dari sana. Saya penasaran apa ada perubahan atau tidak setelah saya membuat satu skor.”