Ryder Cup 2018 AGolf Design
TIm Eropa bergembira usai mendapatkan Ryder Cup kembali pada Minggu (30/09) lalu / AGolf Design

AGolf.xyz – Ryder Cup 2018 sudah dimenangi Tim Eropa. Selanjutnya apa?

Satu hal yang pasti, Amerika kembali menunda kesempatan mereka untuk menang di tanah Eropa sejak 1993. Padahal dua sejarah comeback pernah terjadi dengan poin yang sama, 10-6. Tetapi, alih-alih mengulang sejarah 1999 dan 2012, Amerika lebih memilih 4 tahun ke depan untuk mencoba peruntungannya lagi di Marco Simone Golf and Country Club, Italia.

Dominasi Tim Eropa di rumah

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Tim Eropa membasahi diri mereka dengan sampanye, berdansa, dan berdendang bersama di podium Le Golf National, Paris, Perancis usai kemenangan fenomenal 17,5-11,5. Tetapi, kekalahan telak seperti ini betul-betul di luar dugaan mengingat komposisi yang dimiliki Amerika.

Dari 12 pegolf star and stripes, 6 dari 12 merupakan pegolf Top-10 dunia. Selain itu, Tiger Woods baru saja menjadi juara TOUR Championship, pada akhir pekan sebelum Ryder Cup. Sejumlah pegolf muda dan bertalenta membuat Amerika diunggulkan, apalagi berstatus juara bertahan dua tahun lalu.

Di fourball Jumat (28/9) pagi, uang taruhan cukup membesar ke tangan Amerika dengan kemenangan 3-1. Namun, siapa sangka, 1 poin yang menjadi celah di kemenangan besar itu, menjadi bola salju yang tidak hanya menutup peluang sejarah menang di Eropa, tetapi juga pulang dengan memalukan.

Hasilnya, Tim Eropa menang 16 dari 24 partai berikutnya.

Blame the Americans

Lima hari sejak kemenangan Woods di TOUR Championship, pegolf kedua dengan 80 gelar PGA Tour ini tak mampu menyumbangkan sebutir poin dari 4 penampilannya. “Saya patut disalahkan, kenapa tidak dapat memberikan poin. Ini tidak lucu sama sekali,” komentar Woods pedas.

Para pegolf Amerika juga tampil di bawah permainan terbaik mereka. Sebut saja Dustin Johnson, Rickie Fowler, (katanya) Kapten Amerika Patrick Reed, hingga si tetua adat Phil Mickelson.

Tak seperti para pemain Eropa. Thorbjorn Olesen pun masih menyumbang 50 persen poin dari 2 partai yang ia ikuti. Pertimbangan kalah 4&2 saat fourball Jumat, membuat Kapten Bjorn memutuskan Olesen istirahat selama hari Sabtu. Di single, Olesen yang lebih fresh, menanduk pegolf Amerika yang sedang on fire, Jordan Spieth dengan skor dominan 5&4.

Sergio Garcia yang tahun ini tidak merasakan akhir pekan di keempat mayor karena 34-over par, malah tampil mengesankan dengan 3 poin. Poin yang melewati total poin juara mayor dari Amerika tahun ini, Patrick Reed dan Brooks Koepka, juga Tiger Woods dan Phil Mickelson yang membuat 0 besar.

Kapten Angkat Bicara

“Inilah bagian terberat menjadi Kapten. Kalah, ya kita memang kalah, tapi apa yang harus dilakukan setelah ini, itulah yang jadi pertanyaan. Adilnya, biarkan kami mencoba kesempatan sekali lagi di tahun 2022, untuk menjawab rasa penasaran para fans Amerika kenapa kita tidak pernah menang di sini (Eropa),” jelas Kapten Jim Furyk.

Ada sejumlah pertanyaan ringan yang mendasari kenapa Amerika tidak sekalipun menang di Eropa. Dari RyderCup.com yang dituliskan wartawan Amerika, “Apakah sang Kapten, siapapun mereka tidak betul-betul mempelajari lapangan tuan rumah?” Khusus dalam kasus 2018 ini, Le Golf National dan kebetulan juga, Jim Fuyk menjadi Kaptennya.

Atau juga, berapa banyak pegolf Amerika yang diturunkan di French Open atau misalkan di Marco Simone 4 tahun ke depan, bagaimana kesiapan Amerika mencicipi lapangan Ryder Cup 2022 agar mendapatkan gambaran? Selain itu, kecerobohan Furyk yang memisahkan Patrick Reed dan Spieth misalkan di pilihannya.

“Saya tahu semua anak asuh saya dapat bermain bermain baik, tetapi ya saya mengakui mungkin ada kesalahan saat menyusun komposisi tim fourball maupun foursome,” ucap Furyk.

Namun, beberapa keputusan Furyk juga cukup tepat. Tertinggal 4 poin dari 16 partai pertama, Furyk sempat percaya timnya bisa mengulang hari terindah seperti Battle of the Brookline 1999 lalu. Tiga pegolf yang diturunkannya, Justin Thomas, Webb Simpson, dan Tony Finau semuanya membalikkan prediksi dengan mengalahkan Rory McIlroy, Justin Rose, dan Tommy Fleetwood.

“Saya melihat mereka bisa menang,” kata Furyk.

Namun, Tim Eropa seperti memotong tangga yang sedang dinaiki Amerika untuk mengejarnya. Enam partai terakhir menjadi anti-klimaks bagi Amerika, dengan hanya Patrick Reed saja yang mampu memberikan poin terakhir untuk 10,5.

“Saya menganggap Furyk sudah melakukan tugasnya dengan baik. Kami di tim percaya pilihannya di lapangan, dan kita memang telah bermain bagus. Namun, Tim Eropa tampaknya tampil lebih baik dari kami,” kilah Phil Mickelson.

Kekalahan Terburuk Amerika dalam 12 Tahun

America team Ryder Cup
TIm Amerika di Ryder Cup 2018 / Golfweek

17,5-10,5 sudah tidak bisa diubah lagi. Amerika kalah 7 poin. “Saya tidak pernah bermimpi menang sedalam ini,” komentar Bjorn.

Pertanyaan berikutnya, kenapa bisa sebegitu besar kalahnya?

Amerika sering berkata Ryder Cup merupakan hal besar. Itu sudah ditunjukkan saat mereka menang di Hazeltine National dua tahun lalu, sebagai gelar pertama setelah Valhalla 2008. Namun, ada sesuatu yang memang sepertinya mengganjal jika melihat passion Tim Eropa di manapun mereka berada. Ini terbukti saat memenangi Ryder Cup 2004 di Oakhill dan Medinah 2012, sepanjang milenium 2000.

“Saya tidak biasanya menangis, tetapi Ryder Cup kali ini sangat berkesan,” hal yang dikatakan Sergio Garcia saat menjadi pegolf dengan sumbangan poin terbesar 25,5 poin.

Begitu juga Francesco Molinari, yang merayakan gelar mayor pertama untuk Italia di the Open, dan kini menjadi pegolf keempat dan Eropa pertama dengan 5-0 di Ryder Cup. Teakhir kali pencapaian ini diraih Larry Nelson, 39 tahun lalu. “Namanya bukan Molinari, Machinari sekarang. Dia seperti mesin, machine,” pendapat Garcia.

“Kalian lihat bagaimana kekompakan kami sepanjang pekan ini. Saya melihat hal ini lebih dari mayor, lebih dari apapun,” tutur Molinari.

Ian Poulter yang dikembalikan Kapten Bjorn ke tim, terlihat begitu berpengaruh saat turun di single. Menghadapi pegolf yang memiliki 100 persen kemenangan dari 3 single, Poulter yang harus melewati tahun cedera setahun terakhir, menunjukkan sang Kapten tidak salah memilihnya.

“Ryder Cup merupakan alasan saya terus bermain golf,” tegas Poulter, yang memenangi Houston Open sebagai gelar PGA Tour pertamanya setelah WGC-HSBC Champions 2012.

Begitu juga Olesen. Sempat dipermalukan saat memilih rekan Denmarknya di fourball, kini Bjorn bisa menunjukkan kalau anak muda ini bisa berbuat lebih di masa yang akan datang. “Saya percaya dia tampil luar biasa di single, dan ini membuktikan dia di tim saya bukan karena dia orang Denmark saja. Tetapi juga karena punya passion,” bela Bjorn.

Amerika Memang Harus Bersabar

Selain karena dominasi Tim Eropa secara tim, keuntungan memilih Le Golf National sebagai tuan rumah, tampaknya berdampak besar bagi kemenangan the blue. Tim Eropa bermain sangat bagus, tetap menjaga tee di fairway yang sempit, putt yang brilian, hingga ekspresi yang terus bersemangat menjadi modal penting mereka di Paris.

“Satu hal dalam pendapat saya, reputasi gelar, catatan statistik, ranking dunia tidak berpengaruh apa-apa di sini. Yang dibutuhkan itu passion,” kata Justin Rose.

Dengan apa yang menimpa Amerika saat ini, dengan reputasi gelar mereka yang bejibun, statistik yang lebih baik dari Tim Eropa, bahkan hingga ranking dunia yang jauh lebih dominan, memang faktor tuan rumah, lapangan, penonton, kekompakan tim, sampai keputusan krusial Kapten menjadi penentu.

Memanglah, tim tuan rumah harus lebih baik dari tim tamu. Tetapi, Amerika juga perlu–sesekali–memikirkan bagaimana mempermalukan tim tuan rumah yang sudah lama tidak mereka menangkan.

Infographis Ryder Cup 2018 AGolf
Infografis kemenangan Tim Eropa di Ryder Cup 2018 / AGolf Design