AGolf.xyz – Turnamen terakhir LPGA di musim 2018, CME Group Tour Championship memberi hadiah spesial bagi Ariya Jutanugarn asal Thailand. Selama 72-hole di Tiburon Golf Club, Florida, Ariya menampilkan permainan solid 69-66 di akhir pekan untuk finis T.5 dan mengamankan penghargaan terakhirnya, Race to the CME Globe.

Menuju turnamen terakhir LPGA itu, Ariya perlu finis apik untuk menyapu bersih seluruh penghargaan penting yang LPGA berikan. Merampungkan Asian Swing di China, Ariya sudah memastikan gelar Rolex Player of the Year, Money Title, Vare Trophy, LEADERS Top-10, hingga total birdie.

CME Group Tour Championship

Melakoni turnamen terakhir dengan 72 pegolf saja, Ariya dihantam peluang matematis dari 11 pegolf selain dirinya, yang bisa saja mengkudeta impiannya menyapu bersih gelar LPGA. Usai mereset poin Race to the CME Globe, Ariya utamanya perlu memperhatikan Top-5 yang bisa memastikan gelar ini jika mereka menjuarai turnamen terakhir itu.

Minjee Lee, Brooke Henderson, Nasa Hataoka, dan Sung Hyun Park punya peluang paling besar memenangi gelar CME Group Tour Championship dan Race to the CME Globe secara bersamaan.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Di akhir putaran pertama, ancaman utama datang dari Nasa Hataoka yang menggusur posisinya dengan skor 64, di saat Ariya telat panas karena 70. Di putaran kedua yang memiliki tingkat kesukaran tinggi karena angin, Nasa harus terlempar begitu jauh karena 76 dan Ariya berbalik naik dengan 71. Rata-rata skor ketika itu mencapai 73,58 strokes.

Mengumpulkan 4 birdie lebih banyak dari 9 birdie saja sepanjang dua hari pertama, perlahan tapi pasti Ariya melewati keempat pegolf yang mungkin saja menjegalnya. Hadirnya nama Lexi Thompson yang memastikan satu-satunya gelar di tahun 2018 ini, Ariya pun tak terbantahkan lagi menjadi pegolf pertama yang mampu menyapu bersih seluruh gelar penting LPGA.

Hal itu semakin diperkuat dengan gelar Rolex ANNIKA Major Award, yang merupakan bentuk konsistensi golfer di 5 turnamen mayor wanita. Begitu juga No.1 dunia yang ia pertahankan sejak akhir Oktober lalu, dan total 13 eagle di peringkat kedua dan menempati No.3 di average putt.

Peran Pia dan Lynn

Atas hasil fantastis ini, peran Pia Nilsson dan Lynn Marriott dari Vision 54 lah, yang sangat membantu mengubah mindsetnya di putaran terakhir. “Saya tidak ingin mengakhiri musim saya dengan cara konyol,” kata Ariya dalam keterangannya di Golfweek.

Diakuinya, Ariya merasa ada ketakutan tak biasa saat menghadapi putaran final. Diamini oleh Marriott yang mengamatinya, ini terjadi saat Ariya berhasil menjadi golfer Thailand pertama yang menjadi No.1 dunia tahun lalu.

“Saya melihat dia terbebani saat turun ke lapangan sebagai No.1. Dia seperti Annika yang sedikit tidak nyaman jika disorot berlebihan sebagai terbaik dunia, atau apapun itu namanya,” komentar Marriott. “Setelah tahu masalah itu, kami mencoba memperbaiki kepercayaan dirinya sehingga dia lebih percaya diri terutama di musim ini.”

Selagi menjadi No.1 dunia selama dua pekan saja, lima CUT dan mundur dari beberapa turnamen sempat mewarnai kariernya hingga akhir musim. Di KPMG Women’s PGA Championship tahun lalu, wajib par di hole terakhir untuk lolos CUT, Ariya malah membuat bogey dan menunjukkan bahasa tubuhnya yang seolah berteriak, “Saya ingin pulang.”

Tahun ini, kejadian itu sempat terulang di US Women’s Open di Shoal Creek. Memimpin 7 strokes di back nine, Ariya menderita triple-bogey 7 di 10 dan bogey lain. Bogey lain di hole 12, menipiskan jaraknya menjadi satu stroke saat Kim Hyo Joo membuat birdie di 15.

Birdie-bogey-bogey di tiga hole terakhir, memaksanya mengulang Playoff melawan Kim di angka 11-under par 277. Perlu 4 hole Playoff, untuk akhirnya memenangi gelar mayor keduanya yang diawali dari ketakutan pribadi.

“Setelah kemenangan itu, saya berbincang dengan Pia dan Lynn terkait hasil buruk itu. Saya merasa bangga bisa meneruskan pertarungan sampai akhirnya menang di Playoff, tetapi di satu sisi saya seharusnya bisa menang dengan margin besar. Secara keseluruhan, saya belajar banyak pekan itu dan saya merasa lebih matang saja,” ungkap Ariya.

Ariya yang semakin Matang

Pasca turnamen mayor tersebut, Ariya memainkan 14 turnamen LPGA dengan dua gelar, sepasang peringkat kedua, ketiga, dan keempat. Seluruh hasil yang membawanya menyapu bersih titel penting LPGA, dan juga No.1 dunia selama 7 pekan antara Juli-November ini. Sung Hyun Park sempat menjadi No.1 selama 10 pekan, antara 20 Agustus hingga 28 Oktober.

“Dia belajar untuk memilah mana turnamen yang harus ia kejar hingga ke puncak klasemen, dan mana yang tidak. Saya rasa, itu dimulai sejak US Open, dan dia belajar untuk mengenali dirinya lebih baik,” kata Marriott.

Caddienya, Les Luark juga beranggapan hal yang sama. “Menjadi caddienya cukup mudah bagi saya. Karena ketika dia yakin bisa menang, kami akan melakukan yang terbaik. Tetapi jika tidak, saya akan meyakinkannya walaupun akhirnya memang sesuai dengan apa yang dipikirkannya,” kata Luark.

Menanggapi pribadinya yang lebih matang, Ariya beranggapan dia ingin menikmati golf lebih dari sekedar permainan. “Saat Pia dan Lynn bertanya apa goal saya, ‘saya ingin menjadi happy golfer. Saya ingin menikmati setiap momen yang diberikan setiap harinya kepada saya. Itu saja.’ Saya rasa, itu menjadi kunci penting yang saya pegang di setiap turnamen yang saya ikuti,” ujar Ariya.

Secara keseluruhan, Ariya telah mempelajari bahwa golf merupakan separuh hidupnya, tidak lagi keseluruhan hidupnya. Itulah yang mungkin membawanya menjadi happy golfer, dan happy person.

“Nikmati saja, dan selagi saya menjadi No.1 dunia, saya ingin terus menginspirasi anak-anak di Thailand,” ujarnya.