AGolf.xyz– Bagi para wisatawan yang ingin berlibur ke Selandia Baru, mungkin akan kaget dengan peraturan baru ini. Mulai awal Oktober 2018, pihak Bea Cukai bandara Selandia Baru resmi memberlakukan aturan baru, yaitu perizinan memeriksa ponsel, laptop dan perangkat elektronik lainnya bagi wisatawan yang berusia di atas 22 tahun.

Undang-undang tersebut menyatakan bahwa petugas Bea Cukai berhak meminta pengguna untuk memberikan informasi akses atau password ponsel dan perangkat elektronik lainnya untuk menelusuri data-data yang tersimpan dalamnya.

Dilansir dari express.co.uk, Kamis (10/10), bagi wisatawan yang menolak untuk menyerahkan kata sandi perangkat elektronik, akan didenda hingga 5.000 NZD atau sekitar Rp49 juta dan semua perangkat elektronik dan ponsel akan disita dan mendapat penuntutan.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Peraturan sebelumnya, petugas juga akan menghentikan siapapun di perbatasan untuk meminta dan memeriksa gadget dan perangkat elektronik yang dibawa, tetapi tidak memaksa wisatawan untuk memberikan kata sandi mereka. Dan jika sudah selesai, maka akan dikembalikan setelah dilakukan pemeriksaan dan akan disita jika ada pelanggaran yang relevan.

Hal tersebut dilakukan demi keamanan dan mencegah tindak kejahatan semata, tetapi peraturan ini dianggap sebagai sebuah pelanggaran privasi. Bahkan menurut Thomas Beagle, selaku Ketua Dewan Selandia Baru, untuk Kebebasan Sipil, membiarkan pihak Bea Cukai memeriksa dan menangkap semua informasi termasuk sebagai pelanggaran serius terhadap privasi pribadi.

Peraturan ini juga mempersilahkan petugas untuk dapat mengambil dan mengintip data-data pribadi setiap orang, dan Dewan Selandia Baru kini menyerukan agar peraturan ini dihapus karena terlalu berlebihan dan tidak dapat dibenarkan.

Selandia Baru menjadi satu-satunya negara yang menerapkan peraturan ini. Amerika Serikat juga menerapkan peraturan serupa, tetapi tidak ada denda yang dikenakan jika wisatawan menolaknya.