SMF Catatkan EBA-SP Rp1 Triliun/ SMF
SMF Catatkan EBA-SP Rp1 Triliun/ SMF
Ilustrasi SMF Catatkan EBA-SP Rp1 Triliun/ SMF

AGolf – PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mencatatkan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp1 triliun.

“Kami optimistis kehadiran instrumen EBA-SP dapat memperkuat pasar keuangan Indonesia dan mendukung pengembangan basis investor domestik,” ujar Direktur Utama SMF Ananta di Jakarta, Rabu (9/11).

Ia mengatakan EBA-SP yang dicatatkan itu merupakan hasil kerja sama sekuritisasi aset senilai Rp1 triliun antara SMF dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (SMF-BTN 02). Surat partisipasi itu mendapatkan peringkat AAA (triple A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Ia mengemukakan EBA-SP SMF-BTN 02 terdiri dari dua kelas yaitu kelas A dan kelas B. Untuk kelas A terdiri dari dua seri yakni seri A1 (SPSMFBTN02A1) dengan nilai nominal Rp400 miliar yang mempunyai rata-rata tertimbang jatuh tempo (weighted average life) selama 2 tahun.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Dan seri A2 (SPSMFBTN02A2) dengan nilai nominal Rp513 miliar dengan rata-rata tertimbang jatuh tempo selama 5 tahun, sementara Kelas B bernilai Rp87 miliar.

“Pada transaksi ini SMF berperan sebagai penerbit, `arranger`, pendukung kredit, dan investor. Sementara BTN sebagai kreditur asal dan penyedia jasa,” paparnya.

Ananta Wiyogo menambahkan hasil sekuritisasi ini oleh BTN sedianya akan digunakan untuk mendanai program satu juta rumah, dimana program itu memerlukan dana jangka panjang yang cukup besar serta mendukung pasar pembiayaan perumahan di Indonesia untuk mewujudkan kepemilikan rumah yang layak dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

Direktur Bank BTN Iman Nugroho Soeko menambahkan melalui transaksi sekuritisasi ini, perseroan dapat memanfaatkannya sebagai sumber dana penyaluran KPR baru sekaligus menjaga rasio kecukupan modal.

“Diharapkan dengan transaksi sekuritisasi ini akan memberikan peluang yang cukup besar bagi Bank BTN dalam mendukung pembiayaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah, sekaligus dalam rangka mendukung program sejuta rumah yang menjadi program pemerintah saat ini,” katanya.

Ia mengatakan rumah merupakan kebutuhan pokok, kebutuhan rumah akan selalu meningkat bersamaan dengan bertambahnya penduduk. Saat ini penduduk Indonesia mencapai 257 juta jiwa, dengan pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun.

“Dengan proyeksi itu kenaikan kebutuhan rumah mencapai 800 ribu unit per tahun,” paparnya.