Infografik The Match

AGolf.xyz – #TheMatch rampung dengan kemenangan Phil Mickelson minggu lalu. pertandingan antara Phil vs Tiger Woods di Shadow Creek, Las Vegas mengembalikan romansa lama.

Keduanya adalah mantan No.1 dan dua dunia pada era 2000-an. Tapi #TheMatch kali ini terasa lebih seperti menyambut comebacknya Tiger (dan Phil) ke lapangan. Tepat akhir musim lalu, Tiger baru saja menjuarai TOUR Championship sebagai gelar pertamanya sejak WGC-Bridgestone Invitational 2013.

Begitu juga Phil, yang akhirnya meraih gelar di WGC-Mexico Championship, juga dengan rentang waktu sekitar 5 tahun sejak the Open 2013.

Pengalaman tak biasa di antara maestro golf ini, menjadi milik Phil yang menundukkan Tiger di hole 22. Seperti kesepakatan awal, Phil berhak atas hadiah utama USD9 juta, atau jika dirupiahkan lebih dari Rp130 miliar. Angka yang fantastis untuk seorang juara.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

 

Kritik #TheMatch

Hadirnya #TheMatch di kalender Thanksgiving tidak luput dari kritik. Usai pertandingan pada Sabtu (24/11) lalu, banyak media dan pengamat yang menunjukkan kalau keduanya tidak menunjukkan permainan terbaiknya. Sempat menyajikan chip-in khas Tiger di hole 17 untuk All Square, Tiger seperti kehilangan magisnya di sudden-death Playoff. Di hole 19, ia gagal memasukkan putt 8 kaki sebelum kalah di par-3 sejauh 93 yards, karena miss green.

Magis yang hilang ini cukup disesalkan. #TheMatch dipandang sudah dimainkan 10 atau 15 tahun yang lalu. Di usia yang menyentuh kepala 4 saat ini, keduanya memang terlihat lebih matang, tetapi pertarungan kali ini lebih sebagai golftainment saja.

Dari sisi penayangan, dikabarkan kalau live streaming via B/R Live yang merupakan penyedia utama, tidak berjalan dengan baik di Amerika sana. Beberapa platform lainnya, menyediakan refund untuk pembeli yang telah membayar PPV (pay-per-view) USD19,99.

Begitu juga salah satu komentator siaran langsung, Charles Barkley menganggap “this is some crappy golf.”

Dalam beberapa akun Twitter, Rickie Fowler menyebutkan #TheMatch cukup membosankan. Sir Nick Faldo malah menganggap kalau keduanya tidak ada apa-apanya dibanding kenangan yang dibuatnya dari hole dengan panjang yang sama. Di Ryder Cup 1995, wedge 93 yards berhasil ia tempatkan sejauh 4 kaki saja dan Faldo mendapatkan pelukan dari Seve.

“Lalu apa yang bisa dibanggakan #TheMatch?” tanya Faldo di Twitternya.

Menurut AGolf, hadiah yang begitu besar menjadikan seolah pertandingan ini akan fantastis. Berkaca pada mayor US Open sebagai turnamen golf 2018 dengan hadiah terbesar USD12 juta, juaranya ‘hanya’ menerima 18% atau USD2.160.000. Itu berarti, perbandingan kasar USD9 juta dalam satu malam yang didapat, sama dengan torehan 4 gelar mayor. Tapi nyatanya dengan hadiah yang begitu besar, para penonton tidak mendapatkan pengalaman menonton yang berkesan.

#TheMatch … II?

Di luar kritik yang disematkan kepada ajang kemarin, #TheMatch (sebenarnya) melahirkan berbagai peluang baru. Menggunakan format match-play, pertandingan golf dirasa lebih menarik dibanding stroke-play. Format yang juga digunakan di Ryder Cup, WGC-Dell Technologies Match Play, dan Presidents Cup itu, lebih terasa pertarungannya.

Pertarungan semakin kental dengan “trash talk” yang menunjukkan karakter duelis. Siapapun yang mendengar ‘obrolan sampah’ seperti piece of cake saat membuat birdie, hole-in-one, atau hal lainnya, setidaknya mensejajarkan golf dengan olahraga lainnya.

Sebagai gentlemen sports, golf berpeluang memperkenalkan kembali rivalitas yang sebenarnya terjadi setiap pekannya. Dahulu, great triumvirate antara J.H. Taylor, Harry Vardon, James Braid untuk final the Open 1894-1914 dan dikenang oleh para pecinta golf.

Setelah itu, Walter Hagen vs Gene Sarazen, Ben Hogan vs Sam Snead, Jack Nickalus vs Arnold Palmer vs Gary Player terjadi hingga 1970-an. Meluasnya golf ke seluruh dunia, membawa Seve Ballesteros, Nick Faldo, Colin Montgomerie, Greg Norman, untuk masuk dalam rivalitas golf.

Rivalitas yang sempat tertutupi dominasi Tiger selama dua windu antara 1997-2013. Kini, rivalitas seperti itu bisa kembali dihadirkan. Salah satunya dengan membuat #TheMatch II. Beberapa nama besar saat ini, bisa menjadi bagian dari #TheMatch II yang entah siapa akan membuatnya.

Tetapi berbicara kemungkinan, berikut beberapa peluang yang bisa terjadi.

Patrick Reed vs Rory McIlroy

Sulit melupakan drama yang terjadi di Ryder Cup 2016 di Hazeltine. Walaupun sorotan utamanya hanya terjadi di hole 8 saat Rory dan Reed berbalas birdie dari jarak yang jauh, keduanya cukup berpeluang melahirkan drama baru #TheMatch. Saling menunjukkan sportifitas tinggi, keduanya sulit terhindarkan dari kesempatan ini.

Dustin Johnson vs Brooks Koepka

Jika ingin mempertemukan kedua golfer ini, sebaiknya tidak perlu terlalu lama. Keduanya merupakan Top-3 dan juara mayor (back-to-back untuk Brooks). Tetapi, jangan harap seperti Phil yang sering berceloteh. ESPN bahkan menyebutnya dengan, ‘tidak perlu mengecek speaker tivimu, karena kedua kompetitor ini memang sangat pendiam.’

Bryson DeChambeau vs Jon Rahm

Perlu interpreter untuk menyaksikan aksi Bryson. Cap yang disematkan kepadanya sebagai ‘The Scientist’, membuatnya terlihat seperti pegolf dengan penuh perhitungan. Sedangkan Jon Rahm, ekspresi yang kental dari wajah Spanyol itu cukup bagi penonton untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Bagaimana hasil akhir #TheMatch kemarin? Apakah perlu diadakan episode keduanya di masa mendatang?

Infografik The Match