AGolf.xyz- PGA Tour maupun LPGA Tour sering menghadirkan sejarahnya sendiri. Tetapi, final yang berlangsung tepat di hari Pemudanya Indonesia (28/10), terbilang cukup unik, karena yang menjuarai turnamen PGA dan LPGA merupakan pegolf muda tidak lebih dari setengah abad jika dijumlahkan.

Xander Schauffele

Dari World Golf Championship (WGC), cukup mengagetkan saat pegolf muda 25 tahun Xanders Schauffele, berhasil memenangi gelar sepenting ini di Sheshan International Golf Club, Shanghai.

Jika dirunut sejak hari pertama, WGC-HSBC Champions yang berlangsung tepat di hari ulang tahunnya ke-25 pada Kamis (25/10) lalu, Xander terlihat memasang bom waktu dengan skor 66 bersama Tony Finau dari pemuncak klasemen Patrick Reed ketika itu. Hari sulit putaran kedua, menumbangkan banyak pegolf di papan atas, sehingga ia pun turun ke peringkat 5 karena 71.

Sebaliknya, Tony Finau berbalik unggul berkat konsistensi 67 yang ia hasilkan. Jaraknya pun lebar, 3 strokes di paruh turnamen. Berganti hari ke moving day Sabtu, Finau masih memimpin dengan jarak yang sama, namun kali ini mendapat tambahan dari Xander, yang sebelumnya peringkat ini dikuasai Justin Rose dan Patrick Reed.

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Satu putaran terakhir sangatlah mungkin mengubah mimpi siapapun, termasuk saat Tony Finau dengan jarak 3 strokes yang ia bentangkan kepada tiga rivalnya itu. Mengejar gelar kedua PGA Tour setelah Puerto Rico Open 2016, Finau melengkapi CV golfnya dengan tiga Top-10 di tiga turnamen mayor beruntun, T.10 di The Masters, 5 di US Open, dan T.9 di the Open sepanjang tahun ini. Ia juga menjadi pegolf ketiga tersubur, di Ryder Cup 2018 dengan sumbangan 2 poin dari tiga partai yang ia mainkan.

Sayangnya, Finau seperti kurang gres saat putaran final. Mengakhiri turnamen dengan 14-under par, posisinya dikejar Xander yang punya 3 strokes lebih baik darinya di putaran final. Dua birdie beruntun Xander di 17-18 untuk 68, memaksa terjadinya Playoff yang kemudian ia menangi dengan birdie juga.

Sorotan pun berpindah ke Xander Shauffele. The birthday boy, atau mungkin the weekbirth boy (masih dalam pekan ulang tahun), mendapatkan gelar ketiganya di PGA Tour. Di usianya yang seperempat abad, Xander seringkali berada di balik bayang-bayang Jordan Spieth dan Justin Thomas semasa amatir, tetapi untungnya keduanya tidak ambil bagian di WGC pertama pada musim baru PGA Tour 2018/2019.

Punya sejumlah gelar minor antar kampus saat membela Universitas Negeri Long Beach dan Universitas Negeri San Diego, Xander menorehkan gelar terbaiknya di California State Amateur Championship 2014. Hal yang cukup jomplang dibandingkan Justin Thomas dengan Haskins Award 2012 sebagai pegolf terbaik di tingkat universitas, ataupun Spieth dengan dua gelar US Junior Amateur, Low Amateur di US Open 2012, dan No.1 dunia ranking amatir.

Xander melepas jaket amatir pasca lulus kuliah 2015, dan langsung mengikuti Web.com Tour Qualifying Tournament. Finis runner-up di stage pertama, Xander memenangi stage kedua, dan akhirnya menerima kartu Web.com Tour dengan finis T.40 di stage final.

Memainkan 23 turnamen sepanjang musim 2016, Xander tidak lolos PGA Tour via Money List. Tetapi, peringkat 15 di Web.com Tour Finals menjadikannya rookie PGA Tour 2016/2017. Hal yang kemudian mengubah nasibnya, karena rookie antah berantah ini dapat finis kelima di turnamen mayor US Open di Erin Hills. Bahkan, ia menjadi pegolf pertama yang mampu menghasilkan 66 tanpa bogey, di putaran pertama sebagai debutnya di US Open.

Hanya tiga pekan berikutnya, gelar pertama Greenbrier Classic dari ketertinggalan 3 strokes, berhasil ia tuntaskan dengan dua birdie di tiga hole terakhir untuk berbalik unggul satu stroke dari Robert Streb.

Melengkapi musim 2017, Xander memenangi gelar penutup TOUR Championship dengan selisih satu stroke saja dari Justin Thomas. Gelar yang membawanya menyandang predikat Rookie Terbaik 2017.

Musim 2018 lalu, Xander tak mendapat satu gelar pun tetapi dua runner-up di THE PLAYERS dan the Open merupakan pertanda besar, kalau Xander siap mengejutkan rivalnya di turnamen akbar lain. Itu terlihat di Shanghai akhir pekan kemarin.

Satu-satunya pegolf yang mampu bermain 60-an di putaran ketiga dan keempat, menjadikan gelar ketiganya ini sebagai kesekian kalinya ia menang dari kondisi tertinggal. “Saya dalam mode menyerang, dan banyak sekali pukulan luar biasa juga putt yang saya harapkan,” omentar Xander mengenai akhir pekannya.

Merayakan ulang tahun bersama kedua orang tuanya, Stefan dan Ping Yi mengharapkan putranya dapat memenangi gelar WGC. Stefan yang merupakan mantan atlet namun terhenti karena kecelakaan mobil, mengalihkan fokusnya ke golf dan mulai melatih anaknya sebagai pelatih swing.

Nelly Korda

Dari 68 musim LPGA sebelumnya, sejarah mencatat hanya satu kali kakak-adik satu darah menjuarai LPGA Tour. Namun, 2018 ini terjadi dua kali. Pertama saat Moriya Jutanugarn memenangi gelar pertamanya di HUGEL-JTBC LA Open April lalu, untuk bersanding dengan adiknya Ariya yang sudah menjuarai 2 gelar mayor dari total 10 gelar LPGA Tour, dan sedang bertengger di No.1 dunia.

Kali kedua baru saja berakhir Minggu (28/10) kemarin. Di usianya yang masih 20 tahun 3 bulan, Nelly Korda dengan skor bebas bogey 68 menjuarai Swinging Skirts LPGA Taiwan Championship, dengan selisih dua strokes dari Minjee Lee dan Michelle Wie.

Februari lalu, sang kakak Jessica menorehkan gelar LPGA kelimanya di Honda LPGA Thailand. Kakak-adik Korda ini akhirnya setara dengan Sorenstam bersaudara, Annika dan Charlotta, juga Jutanugarn sebagai tiga kakak-adik yang menaklukkan LPGA Tour.

“Saya tidak bisa mengungkapkan apa-apa, yang pasti ini hari terbaik sepanjang hidup saja. Saya memang menaruh impian untuk memenangi LPGA Tour satu hari nanti, dan saat memasukkan putt di hole 18 saya menitikkan air mata saking bahagianya,” cerita Nelly.

Nelly memulai putaran finalnya bersama pegolf tuan rumah, Wei-Ling Hsu yang berusaha memenuhi ekspektasi Taiwan karena gelar terakhir mereka terjadi di edisi pertama 2011 silam. Seiring berjalannya waktu, Nelly lah yang mengontrol papan klasemen dengan birdie di hole 4 dan eagle di hole 6. Birdienya di hole 10, menjadi pelepas dahaganya sejak runner-up HSBC Women’s World Championship di Singapura, dengan total skor 13-under par 275.

“Front nine yang sangat bagus, dan hole 4 merupakan hole sulit di sini tetapi saya cukup beruntung approach saya hari ini dapat mencapai green. Momentum di hole itu memberikan saya kepercayaan diri sebelum berpindah ke back nine, dengan selisih stroke yang lumayan,” tuturnya.

Nelly yang memulai kariernya dengan memenangi Sioux Falls GreatLIFE Challenge di Symetra Tour, menjadi pegolf Amerika ke-8 yang memenangi LPGA Tour. Satu pegolf lebih baik dari Korea Selatan, yang jika ditotal memiliki 9 gelar juara dari 7 pegolf.

“Saya nyaris menang di Singapura, tetapi dari sana lah saya belajar memotivasi diri saya untuk mengejar kemenangan di tahun ini. Saya memimpin sejak hole pertama, tetapi Michelle Wie melakukan putt luar biasa di hole 18 dan saya sangat emosional tidak bisa menang,” kenang Nelly.

Melihat masa lalu, Charlotta Sorenstam akhirnya meraih satu-satunya gelar LPGA di Standard Register Ping 2000, untuk menjadi Siblings Slam pertama bersama Annika dengan 72 gelar. Beberapa kakak-adik yang lain nyaris menorehkan catatan langka ini, seperti Marlene Bauer Hagge (26 gelar) dan Alice; Donna Caponi (24) dan Janet Caponi LePera; Danielle Ammaccapane (7) dan Dina; Mardi Lunn (1) dan Karen. Aree dan Naree Song juga Numa and Russy Gulyanamitta tanpa gelar.

Potensi yang terbuka lebar di depan Nelly, bukan tidak mungkin pasangan Korda ini saling berburu Sibling Slam versi baru, yakni dua kemenangan, tiga kemenangan, empat kemenangan, dan seterusnya melawan Jutanugarn bersaudara.