AGolf.xyz– South Africa Fashion Week (SAFW) Autumn Winter 2019 diadakan pada 30 Oktober – 4 November 2019 di Joburg, Sandton. Pekan ini SAFW juga merayakan ulang tahun ke-21 dengan menghadirkan berbagai elemen desain, tekstur dan warna yang melenggang di catwalk. Memasuki hari ketiga dari pagelaran busana ini sebagian besar menghadirkan koleksi aksesoris unik. Berikut tren busana di SAFW 2019.

Kuning mustard

Busana Afrika dikenal didominasi dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, biru, merah muda dan kuning. Namun dalam gelaran SAFW ini warna kuning mustard menjadi tema dari beberapa merek internasinal seperti Carolina Herrera, Moschino dan Tom Ford. Pemilihan warna kuning mustard ini membuat percaya diri untuk berbagai warna kulit, selain itu warna ini memberikan kesegaran layaknya vitamin C pada jeruk.

Penutup kepala anyaman

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Aksesoris kepala masih menjadi salah satu keunggulan yang dihadirkan dalam SAFW, karena hampir sebagian masyarakat Afrika Selatan mengenakan penutup kepala dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam edisi SAFW 2019 ini juga menghadirkan beragam penutup kepala seperti jilbab, topi, baret, beanis, hoodies dan ikat kepala. Seperti koleksi yang dihadirkan oleh desainer lokal Black Coffee yang menempatkan sentuhan formal, sedangkan model Irinia Stetsco mengenakan penutup kepala berbentuk segitiga.

Monokrom

Gaya hitam putih masih menjadi salah satu pilihan populer di kalangan desainer Afrika Selatan. Beberapa desainer lokal menghadirkan koleksi pakaian dalam warna monokrom dan klasik seperti Fikile Zamagcino Sokhulo, ArtClub and Friends, Outwear and Judith Ateiler. Banyak pula desainer yang memadukan unsur-unsur monokrom dalam koleksi mereka.

Ruffles

Ruffles dan flounces tetap menjadi bentuk modis dan telah lama muncul di catwalk besar di seluruh dunia, termasuk dalam koleksi yang dipamerkan di SAFW AW19. Komponen ruffle yang sederhana namun dengan potongan dramatis memberikan kesan industry fashion yang biasa terlihat glamor. Bahkan kini penggunaan ruffle tidak hanya ditempatkan dalam busana saja, namun juga di aplikasikan dalam aksesoris perhiasan dan tas. Desainer lokal yang menghadirkan ruffle dalam koleksi mereka seperti Cindy Mfabe, Fikile Zamagcino Sokhulo, Black Coffe dan Mantsho.

Layering

View this post on Instagram

Our SS19 collection, Art History, is about piecing together South Africa’s contrasting cultural landscape in interesting ways. Art is such a pro-active way of dealing with pain and trauma, which we as South African’s know quite a bit of. I found it quite beautiful that most of the major art movements stemmed from times of suffering and war, and you don’t have to look far to see that we are in a time of socio-political and economic upheaval. But hope has always been something that has forged us on, and personally, for my family and I, that sense of hope has been through the church, which you will notice cues of in the collection. Strong colour and prints, a negotiation between concealing & revealing and ecclesiastic shapes form the basis of our SS19 offering. All custom prints done by @abimeekel and @claire_meekel from @meek.meekier.meekest ; two girls I think are the voices of tomorrow. Photos by @eunicedriverphotography Thank you for the continued platform @safashionweek and @woolworths_sa #arthistorySS19 Collection available for pre-order//

A post shared by Thebe Magugu (@thebemagugu) on

Busana dengan layering atau penumpukan berbagai bahan berbeda dalam satu pakaian sudah dipopulerkan oleh beberapa rumah mode ternama dunia seperti Balenciaga,  Simone Rocha dan Missoni. Desainer Afrika Selatan juga tak mau ketinggalan, mereka juga menghadirkan busana layering dengan sentuhan unik yang memberikan ciri khas koleksi busana mereka. Beberapa brand lokal yang menggunakan layering seperti The Watermelon Club, Thebe Magugu, Rich Mnisi, Ode, HSE, Ka-Sha and Amanda Laird Cherry.