AGolf.xyz- Fetival Payung Indonesia (FPI) telah digelar di Candi Borobudur pada 7-9 September. Festival ini disemarakkan dengan kehadiran berbagai payung warna-warni baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Peserta dari mancanegara yang hadir adalah India, Pakistan, Thailand dan Jepang. Thailand rutin hadir karena FPI dan Bo Sang Umbrella Festival (Tonpao, Chiang Mai) sudah melakukan hubungan sister festival sejak tahun 2016 menuju Asian Umbrella Comunity

Festival Payung Indonesia (FPI) ke-5 tahun ini merupakan yang pertama kali diadakan di Candi Borobudur. Tahun-tahun sebelumnya festival ini diadakan di kota Solo. Payung-payung yang ditampilkan ini dilukis dan dikreasikan oleh seniman-seniman perajin payung dari nusantara.

Festival ini dibuka dengan Arak-Arakan Payung Nusantara mengelilingi Borobudur. Kemudian disemarakkan dengan pentas tari dan musik, workshop pembuatan payung, workshop payung ecoprint dan pameran payung lontar.  Para pengunjung juga dapat menjelajahi sajian kuliner klasik RASAKALA yang meramu kembali kekayaan kuliner nusantara dari artefak Borobudur.

Pada malam harinya, pengunjung dimanjakan dengan lantunan sunyi Ata Ratu dari Sumba Timur, Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali dan kidung kontemporer dari Endah Laras. Pada puncak acara, digelar Anugerah Payung Indonesia yang menganugerahi penghargaan untuk Syofyani Yusaf maestro tari dari Padang, Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional  Sumba Timur), dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

Seni payung kini sudah berkembang semakin pesat dengan fungsi yang berbeda. Dulunya hanya digunakan ketika upacara kelahiran, kematian dan acara adat, kini dapat pula digunakan sebagai properti desainer interior wisata, fashion dan bahkan karya seni baru yang diminati.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabudin mendukung kegiatan FPI sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah. Selain FPI masih ada festival menarik lainnya seperti halnya dengan acara festival Karimunjawa dan Sangiran yang sebelumnya ada festival Dieng.

Heru Prasetya, direktur FPI menjelaskan FPI merupakan perhelatan untuk kembali menggairahkan seni payung di Indonesia. Payung tidak hanya sebagai alat pelindung tapi filosopi kehidupan yang mendalam. Festival ini juga sebagai upaya untuk melestarikan desa-desa payung yang nyaris punah seperti di Klaten, Banyumas, Malang dan lainnya. Festival ini diharapkan agar masyarakat dapat merayakan kembali kejayaan seni payung nan indah dengan pengembangan karya payung lebih kekinian.

Festival Payung Indonesia merupakan festival rakyat yang diselenggarakan, didukung dan diperuntukkan bagi masyarakat kreatif. Selain itu festival ini melibatkan komunitas lokal dalam perencanaan dan bersama-sama menyelenggarakan acara.