Ariya Jutanugarn

AGolf.xyz – Akhir November lalu, AGolf berkesempatan mewawancarai pegolf No.1 dunia wanita asal Thailand, Ariya Jutanugarn. Bersama sejumlah media golf lainnya, wawancara ini dilakukan di Damai Indah Golf – PIK Course, Jakarta Utara, (30/11/2018).

Ariya memakai atasan kaus berkerah hitam dengan bawahan putih lengkap dengan topi hitam berlogo sponsor SCG (dan JDX). Untuk bawahan, Ariya memakai celana berwarna putih disambung sepatu putih berujung hitam. Tersibak kaus kaki hitam di sela-selanya.

Terbatasnya waktu Ariya di Indonesia membuat waktu para awak media juga terbatas. Kami diberi waktu menemuinya antara 3 sore tepat hingga 5 sore saja. Berikut ini ialah rangkuman wawancara tersebut. Berbagai pertanyaan yang tersedia di artikel ini, merupakan rangkuman pada saat pertanyaan bebas media, serta kesempatan spesial AGolf dan media golf lainnya di VIP 7.

Awal Bermain

 

Ads
LEADERBOARD desktop
LEADERBOARD phone

P: Bisa ceritakan bagaimana kamu mengenal golf?

A: Saya memulai golf pada usia 5,5 tahun. Dikenalkan oleh ayah saya yang memiliki golf shop di Bangkok.

P: Idola kamu siapa?

A: Kebetulan dia adalah ayah saya sendiri. Dia betul-betul mendukung saya, dan kakak saya Moriya. Dia memiliki jadwal yang bisa dibilang runut untuk terus berlatih, dan kami harus berenang setidaknya 2 jam sehari. Saya rasa, dari latihan yang saya lakukan, saya juga menyadari kalau dia bekerja lebih keras dua kali lipat dari saya.

P: Apa yang kamu pelajari dari Ayahmu?

A: Ayah saya mengajarkan untuk tidak boleh sekalipun berpikir menyerah. Inspirasi itu yang kemudian menjaga saya hingga saat ini.

P: Pernah merasakan titik terendah dalam golf?

A: Tentu saja. Tahun 2013, saya cedera (red, terguling saat mengejar kakaknya di practice round mayor Wegmans LPGA Championship). Tahun 2015 (rookie), saya Miss CUT di 10 turnamen beruntun.

P: Bagaimana kamu melihat karier amatir dulu?

A: Saya sangat menyukai golf saat masih muda. Tidak ada tekanan apa-apa, dan rasanya lebih lega tanpa memikirkan pukulan buruk atau skor tinggi. Saya merasa tidak peduli dengan pandangan orang lain, dan fokus kepada diri saya saja.

P: Termasuk saat bermain LPGA pertama kali di Honda LPGA Thailand 2007 ya?

A: Iya, saya berusia 11 tahun saat itu dan merupakan pengalaman luar biasa bisa bermain LPGA di usia semuda itu. Ayah saya menonton langsung saat itu, dan kakak saya menjadi caddy-nya. Pengalaman yang tak terlupakan dan saya sangat nervous dengan hasilnya, 9-over par selama 4 hari.

Ariya Jutanugarn
Ariya Jutanugarn dalam konferensi pers/ SCG
Pencapaian 2018

 

P: Tahun ini, kamu mendapatkan semua hal yang belum pernah dibuat pegolf wanita manapun di dunia ini. Bagaimana kamu mencapainya?

A: Singkat saja, saya tidak berpikir apapun mengenai hasil akhir. Saya hanya menikmati prosesnya, dan saya rasa itu memudahkan siapapun untuk melakukan apapun yang kamu suka. Jangan hanya berpikir di pikiran yang jelek, tapi berusahalah untuk berpikiran baik. Dan itu sangat menolong saya tahun ini.                 

P: Bagaimana rasanya menjadi No.1 dunia?

A: Rasanya luar biasa. Tetapi, saya menganggap berapapun ranking saya itu tidak terlalu berpengaruh bagi diri pribadi. Walaupun begitu, saya meyakini ranking 1 dunia ini akan sangat berarti bagi negara saya. Jadi, saya memiliki alasan lebih untuk bermain sebaik mungkin, tidak terbatas dengan peringkat berapa saya saat itu.

P: Jika dalam pertandingan, apakah No.1 dunia memberikan tekanan untukmu?

A: Sedikit banyak ada. Karena siapapun mereka, punya harapan tinggi agar saya selalu menang di setiap turnamen. Sayangnya, saya bukanlah orang sempurna seperti itu dan akhirnya saya menyerah dengan tekanan tahun lalu (Ariya sempat menjadi No.1 dunia selama dua minggu). Saya sendiri selalu berpikir untuk tidak memiliki ekpektasi lebih, dan saya memang belajar untuk tidak memikirkan ranking. Saya diingatkan pelatih untuk mengenang masa-masa amatir dulu, yang cuek dengan omongan orang. Jadi diri sendiri saja tanpa takut, pesannya yang membuat saya merasa lebih plong saat ini. Saya juga menyadari, No.1 dunia bisa didapat siapapun juga, karena ranking kami bisa berubah dengan cepat setiap minggunya. Jadi, saya lebih fokus pada hal lain yang harus saya kerjakan.

P: Adakah seseorang yang kamu anggap menjadi rivalmu?

A: Ada, diri saya sendiri. Saya rasa, golf memang permainan yang menuntut pemainnya melawan dirinya sendiri.

P: Bagaimana persiapan kamu sebelum bertanding?

A: Saya harus ada di tempat pertandingan sekurang-kurangnya dua jam sebelum tee times saya. Sesampainya di clubhouse, saya akan memanfaatkan latihan ringan sekitar 30 menit, dan itu dimulai dari tempo. Dalam artian pribadi, saya berlatih mengayunkan stik dari pukulan paling ringan, 20 persen, 40 persen, sampai full swing. Saya akan menutup mata di setiap tempo seperti itu, karena saya sedikit malu dan tidak ingin melihat arah pukulan saya.

P: Bagaimana dengan putting? Dua tahun ini, tiga gelar datang dari Playoff yang hampir semuanya dimenangkan karena putting. Birdie di Manulife LPGA Classic 2017, Kingsmill Championship 2018, dan menjaga par di 4 hole US Women’s Open 2018.

A: Putting saya bagus. Saya shake my stroke, dan fokus pada perbaikan kecepatan putt saya. Saya banyak belajar dari Moriya, karena saya melihat dia salah satu pegolf dengan putt terhebat saat ini. Saya selalu meminta dia untuk membantu saya.

P: Selamat atas kemenangan kakakmu tahun ini, bagaimana kalian sebagai saudara membantu satu sama lain di lapangan ataupun di luar lapangan?

A: Kami selalu bertengkar. Karena saya merasa tidak bisa memberikan banyak bantuan kepadanya, tetapi Moriya selalu menolong saya setiap waktu. Terutama di golf course.

P: Sebagai pemain, apa yang kamu harapkan di masa depan?

A: Saya hanya menginginkan terus bertambah baik setiap harinya, tidak lagi memikirkan hal-hal di luar yang mengganggu pikiran saya.

Ariya Jutanugarn
Ariya Jutanugarn saat memberikan coaching clinic pada anak-anak di Damai Indah Golf PIK Course/ Arief Alqorie
Golf di Thailand dan Indonesia

 

P: Thailand selalu menyediakan golfer terbaiknya ke tur dunia, apa yang membuat hal itu terjadi menurutmu?

A: Dari pandangan saya, ini soal passion dan saya cukup beruntung bisa lahir dan mengenal golf di Thailand. Kami bersyukur punya fasilitas yang banyak, dan punya deretan golfer yang bisa menjadi role model kami.

P: Dari pegolf wanitanya, Thailand punya 5 gelar LPGA tahun ini. Bagaimana Ariya melihat prospek pegolf negaramu di 2019?

A: Kami bersyukur bisa menang banyak di LPGA, dan saya melihat banyak talenta luar biasa yang Thailand miliki untuk 2019. Saya percaya, dengan banyaknya talenta itu, saya yakin tahun depan akan sangat menarik buat kami Thailand baik di LPGA, atau tur lainnya. Mereka bermain sangat-sangat bagus, konsisten, baik, dan cantik juga.

(melihat rekaman 2018, beberapa pegolf potensial itu antara lain, Atthaya Thitikul, Pornanong Phatlum, Meechai Wichanee, Kanyalak Preedasuttijit, Sherman Santiwiwatthanaphong, Thidapa Suwannapura, Pajaree Anannarukarn, dan P.K. Kongkraphan-red)

P: Menurut pendapatmu, bagaimana kamu melihat potensi pegolf muda di Indonesia dan saranmu untuk mereka?

A: Saya rasa, siapapun bisa menjadi apapun yang kalian inginkan. Asalkan kamu percaya pada goal kamu, apalagi jika ingin menjadi golfer, ya teruskan goal itu. Terus kerja keras, passionate dengan itu, percaya pada diri sendiri, saya yakin kamu bisa.

Itulah wawancara spesial kami bersama pegolf No.1 dunia Ariya Jutanugarn. Semoga saja Indonesia memiliki pegolf profesional wanita muda, yang bisa mengikuti jejaknya di masa depan. Dan juga, siapa tahu Indonesia bisa membuat satu turnamen wanita dengan sanction Ladies European Tour ataupun LPGA, untuk menghadirkan golfer No.1 dunia lain.